Blogroll

Akrab Senada, adalah Aktif dan rajin belajar sejarah nasional dan dunia. merupakan kumpulan pemikiran, program, dan materi pelajaran dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar Sejarah khususnya tingkat SMA.

Saturday, September 14, 2019

Mengenang Peristiwa Rengasdengkok



Kronologi Peristiwa Rengasdengklok

Pada tanggal 14 Agustus 1945, Kaisar Hiro Hito mengumumkan bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh Amerika Serikat. Berita kekalahan Jepang dengan cepat didengar oleh bangsa Indonesia, terutama oleh para pemuda yang bekerja di kantor berita Jepang, Domei.
Soekarno, Hatta, dan Radjiman yang baru kembali dari Dalat dalam rangkamemenuhi undangan Marsekal Muda Terauchi (Panglima Jepang yang membawahi kawasan Asia Tenggara) belum mengetahui berita tersebut.
Para pemuda yang telah mengetahui info tersebut mendesak Soekarno dan Hatta unutk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tanpa bentukan Jepang.
Akan tetapi, Soekarno dan Hatta ingin mendapat kepastian terlebih dahulu apakah benar Jepang benar-benar telah menyerah. Soekarno dan Hatta masih memiliki keinginan untuk membicarakan segala sesuatu mengenai  pelaksanaan proklamasi dalam rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Soekarno-Hatta Diculik dalam Peristiwa Rengasdengklok

Tempat penculikan Soekarno
Tempat Soekarno diculik (testagx.blogspot.com)
Adanya perbedaan pandangan antara golongan muda dengan Soekarno-Hatta membuat mereka para golongan muda untuk menculik mereka berdua. Akhirnya Soekarno-Hatta diculik dan dibawa ke rengasdengklok.
Keputusan untuk menculik kedua tokoh tersebut diambil dalam rapat tanggal 16 Agustus 1945 dini hari ayng dihadiri oleh Sukarni, Jusuf Kunto, dr, Mawardi dari barisan Pelopor dan Shudanco Singgih dari Daidan PETA Jakarta Syu. Tugas penculikan diberikan kepada Singgih.
Dalam pelaksanaannya, Singgih dibantu oleh Cudanco Latief Hendriningrat berupa perlengkapan militer. Soekarno –Hatta dijemput oleh sekelompok pemuda dan kemudian dibawa ke Rengasdengklok karena daerah tersebut dianggap aman.
Kedua tokoh tersebut berada di Rengasdengklok seharian penuh. Para kelompok pemuda mendesak Sokarno-Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tanpa adanya keterkaitan dengan Jepang.

Negosiasi dan Kesepakatan Peristiwa Rengasdengklok

Ketidakadaan Soekarno di Jakarta tercium oleh Ahmad Soebardjo sehingga dia mencari informasi letak keberadaan Soekarno. Setelah mengetahui bahwa Soekarno diculik oleh kelompok pemuda, ia mencoba untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
Akhirnya tercapai kesepakatan antara Ahmad Soebardjo yang mewakili dari kalangan tua dan Wikana dari kalangan pemuda bahwa proklamasi kemerdekaan harus diadakan di Jakarta.
Sebagai syarat dan jaminannya, Soebardjo meminta para pemuda agar segera memulangkan Soekarno-Hatta ke Jakarta dan Ahmad Soebardjo menjanjikan kepada mereka bahwa proklamasi akan segera dikumandangkan tanpa keterlibatan Jepang.
Akhirnya bersama Jusuf Kunto dan Soebardjo dengan didampingi Sudiro berangkat ke Rengasdengklok unutk menjemput Soekarno-Hatta.

Proses Persiapan Proklamasi Kemerdekaan

Rombongan Soekarno-Hatta kembali dari Rengasdengklok ke Jakarta pada tanggala 16 Agustus 1945 sekitar pukul 23.00 WIB. Mereka sempat singgah ke rumah masing-masing sebelum menuju ke rumah Laksamana Maeda
Rumah Laksamana Maeda berada di Jalan Imam Bonjol No. 1 Menteng, Jakarta Pusat yang sekarang dijadikan Museum Proklamasi.
Kemudian, Soekarno-Hatta dengan didampingi Laksamana Maeda menemui Somubuco Mayor Jenderal Nishimura untuk mengetahui sikap Jepang tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Dalam pertemuan itu tidak tercapai kata sepakat antara Soekarno-Hatta dan Nishimura. Soekarno-Hatta menekankan bahwa Marsekal Terauchi telah mneyerahkan sepenuhnya pelaksanaan kemerdekaan kepada PPKI.
Akan tetapi Nishimura mengatakan bahwa setelah menyerahnya Jepang, mereka mendapatkan perintah untuk menjaga status quo. Artinya, proklamasi kemerdekaan Indonesia tidak boleh dilakukan.
Dari pertemuan itu, akhirnya mereka merasa yakin bahwa tidak ada gunannya lagi membicarakan masalah kemerdekaan dengan pihak Jepang.
Kemudian, mereka kembali ke rumah Laksamana Maeda yang dinilai relatif lebih aman dari campur tangan angkatan bersenjata Jepang pada saat itu. Kedudukan Laksamana Maeda sebagai kepala kantor penghubung angkatan laut di daerah kekuasaan angkatan darat harus dihormati.
Tidak lama setelah itu, anggota PPKI dan tokoh-tokoh pemuda mendatangi rumah Laksamana Maeda. Kemudian Soekarno dan Hatta dengan ditemani Ahmad Soebardjo menuju ruang makan untuk merumuskan naskah proklamasi.

Kejadian Sebelum Proklamasi Indonesia Dikumandangkan

Peristiwa Rengasdengklok
foto Soekarno-Hatta (titiknol.co.id)
Setelah rumusan teks proklamasi selesai disusun, Soekarno memberikan saran agar semua orang yang hadir pada saat itu bersama-sama menandatangani naskah tersebut selaku wakil-wakil bangsa Indonesia. Saran itu diperkuat oleh Moh. Hatta dengan mengambil contoh Declaration of Indepence Amerika Serikat.
Namun usul itu ditentang oleh para golongan pemuda. Mereka tidak setuju kalau naskah itu ditandatangani oleh tokoh-tokoh tua yang dianggap sebagai “budak-budak Jepang”.
Hal itu memunculkan ketegangan. Sukarni kemudian mengusulkan agar naskah itu ditandatangani oleh Soekarno-Hatta saja selaku wakil bangsa Indonesia.
Usul itu secara aklamsi disetujui oleh semua yang hadir. Setelah itu, Soekarno menyerahkan konsep naskah proklamasi kepada Sayuti Melik untuk diketik. Naskah itu akhirnya ditandatangani oleh Soekarno-Hatta.
Setelah naskah proklamasi siap, kemudian dirundingkan bagaimana cara naskah tersebut disebarluaskan. Sukarni mengusulkan Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) untuk digunakan mengumpulkan masyarakat Jakarta untuk mendengarkan proklamasi.
Namun, Lapangan Ikada dikhawatirkan cukup rawan dan akan menimbulkan bentrokan dengan pihak Jepang. Oleh karena itu Soekarno mengusulkan agar pembacaan naskah proklamasi diselenggarakan di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 (sekarang telah dibongkar dan dijadikan gedung pola dan monumen proklamasi).
Usul itu disetujui dan pertemuan pun selesai. Mereka semua meninggalkan rumah Laksamana Maeda pukul 04.30. Namun sebelum pulang, Moh. Hatta berpesan kepada para pemuda yang bekerja di Domei, terutama B.M. Diah, agar memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia.
Para pemuda tidak langsung pulang ke rumah masing-masing. Mereka berkumpul untuk membagi tugas dalam kelompok untuk menyelenggarakan pembacaan naskah proklamasi.
Salah satu kelompok dibawah pimpinan Sukarni mengadakan rapat rahasia membicarakan bagaimana caranya untuk menyiarkan berita proklamasi dan pengerahan massa unutk mendengarkan pembacaan teks proklamasi.

Pembacaan Teks Proklamasi

teks proklamasi
teks proklamasi (satujam.com)
Pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1945, para pemuda banyak yang datang menuju ke Lapangan Ikada. Mereka mengira teks proklamasi akan dibacakan disana. Pihak Jepang yang mengetahui kedatangan para pemuda itu kemudian berusaha untuk menghalang-halangi.
Namun setelah mendapatdari beberapa pemuda yang mengetahui tentang pembacaan teks proklamasi, mereka semua pun menuju ke Jalan Pegangsaan Timur.
Akhirnya, pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB, dihadapan massa yang mendhadiri acara, Soekarno didampingi Hatta membacakan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Setelah itu disusul dengan pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat. Secara spontan dan tanpa dipimpin, massa mengiringinya dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Penyebaran Berita Proklamasi Kemerdekaan

Peristiwa Rengasdengklok
pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia (id.wikipedia.org)
Peristiwa rengasdengklok berhasil menginisiasi terjadinya proklamasi Indonesia segera setelah Jepang menyerah.  Setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, hal yang perlu selanjutnya dilakukan adalah menyebarkan informasi tersebut seluas-luasnya.
Sesaat setelah proklamasi dikumandangkan, kabarnya telah sampai kepada kepala bagian radio dari kantor berita Domei. Melalui kabar dari Sjahrudin, seorang wartawan Domei, Joesoef Ronodipu memerintahkan seorang markonis (petugas telekomunikasi kapal) untuk segera menyiarkan sebanyak 3 kali berturut-turut.
Berkat sebuah taktik yang mereka lakukan, kabar tentang proklamasi kemeredekaan Indonesia berhasil tersiar . Akan tetapi, baru dua kali berita itu tersiar, pihak Jepang yang mendengar penyiaran itu menjadi marah dan memerintahkan agar siaran dihentikan.
Meskipun demikian, Palenewer selaku kepala bagian Radio Domei tetap memerintahkan bawahannya untuk menyiarkan berita gembira tersebut.
Sehingga setiap setengah jam sampai pukul 16.00 siaran tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia tersiar terus menerus.
Akibat penyiaran itu, pimpinan militer Jepang di Jawa memerintahkan untuk meralat berita tersebut sebagai suatu kekeliruan. Setelah itu pada tanggal 20 Agustus 1945, pihak Jepang menyegel pemancar radio itu dan para pegawainya dilarang masuk.


0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More