Blogroll

Akrab Senada, adalah Aktif dan rajin belajar sejarah nasional dan dunia. merupakan kumpulan pemikiran, program, dan materi pelajaran dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar Sejarah khususnya tingkat SMA.

Umroh

Masjid Nabawi, Saat melaksanakan umroh tahun 2010 sebagai wujud rasa syukur atas rizki yang kami terima .

Presentasi Pendampingan implementasi Kurikulum 2013

Saat mempresentasikan Kurikulum 2013 dalam acara pendampingan implementasi Kurtilas.

IN 2014

Ketika mengikuti pelatihan Instruktur guru sejarah tingkat nasional di Cianjur tanggal 9 - 15 Juni 2014.

TTS Interaktif

Menggunakan Teka Teki Sejarah Interaktif sebagai media pembelajaran.

Bersama Sejarawan Nasional, Anhar Gonggong

Memperingati Hari Sejarah Nasional

Sunday, June 29, 2014

Friday, June 27, 2014

Pengimbasan Kurikulum 2013 terhadap Guru Sasaran wilayah Banten di Wira Carita Labuan Pandeglang


Foto: GS ysng Hebat


Foto: Yang utama GS semangat...

Berfose sejenak tuk kenang-kenangan bersama Guru Sasaran Pelatihan Kurikulum 2013 mata pelajaran Sejarah di Wira Carita Pandeglang.











Ice Breaking untuk menyegarkan kembali konsentrasi dalam mengikuti pelatihan






Serius mengikuti pelatihan

Foto: Pinjam tenaga pak Tata...



Foto: Apresiasi yang baik dari GS menciptakan puisi Kur 13

Thursday, June 26, 2014

Panduan Kurikulum 2013

Munculnya kerajaan Islam di Indonesia

Proses awal penyebaran Islam di Indonesia

Wednesday, June 25, 2014

Munculnya kerajaan kerajaan Hindu Buddha

Sunday, June 22, 2014

Friday, June 20, 2014

Perspektif baru pembelajaran sejarah dalam kurikulum 2013

https://drive.google.com/file/d/0Bz37t_ArVutgRklwWDJ5T3NNeEU/edit?usp=sharing


Karya tulis ini dibuat/disusun dalam rangka mengikuti pemilihan Guru Berprestasi tingkat Kota Tangerang tahun 2014.

Alhamdulillah dapat posisi ke-3



Thursday, June 19, 2014

Perkembangan teknologi

Perkembangan Teknologi


     Mengamati Lingkungan

Coba amati gambar di samping. Gambar apa dan  untuk apa  kira-kira?  Gambar itu  merupakan gambar peralatan rumah tangga yang sudah sangat lama  dikenal di lingkungan  ibu  rumah  tangga  di Indonesia, apalagi di Jawa. Yang jelas peralatan itu terbuat dari batu yang merupakan warisan nenek moyang. Peralatan dari batu ini  sampai sekarang masih digunakan oleh masyarakat kita.
Berikut  ini  kita  akan  membahas  tentang teknologi  bebatuan  yang  telah  dikembangkan  sejak kehidupan manusia purba.

     Memahami  Teks

  Perlu  kamu  ketahui  bahwa  sekalipun  belum  mengenal tulisan  manusia  purba  sudah  mengembangkan  kebudayaan  dan teknologi.  Teknologi  waktu  itu  bermula  dari  teknologi  bebatuan yang digunakan sebagai  alat untuk memenuhi  kebutuhan. Dalam praktiknya  peralatan  atau  teknologi  bebatuan  tersebut  dapat berfungsi serba guna. Pada tahap paling awal alat yang digunakan masih bersifat kebetulan dan seadanya serta bersifat  trial and eror.  Mula-mula  mereka  hanya menggunakan  benda-benda   dari  alam terutama  batu. Teknologi  bebatuan pada zaman  ini  berkembang dalam  kurun  waktu  yang  begitu  panjang.  Oleh  karena  itu,  para ahli kemudian membagi kebudayaan zaman batu di era praaksara ini  menjadi  beberapa  zaman  atau  tahap  perkembangan.  Dalam buku  R.  Soekmono,   Pengantar  Sejarah  Kebudayaan  Indonesia  I, dijelaskan bahwa  kebudayaan  zaman batu ini dibagi menjadi tiga yaitu,  Paleolitikum, Mesolitikum dan Neolitikum.

 1.  Antara Batu dan Tulang

Peralatan pertama yang digunakan oleh manusia purba adalah alat-alat  dari  batu yang seadanya dan juga  dari  tulang. Peralatan ini  berkembang  pada  zaman   paleolitikum   atau  zaman  batu  tua. Zaman batu tua ini bertepatan dengan zaman  neozoikum  terutama pada  akhir  zaman   Tersier   dan  awal  zaman   Quartair .  Zaman  ini berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. Zaman ini merupakan zaman  yang  sangat  penting  karena  terkait  dengan  munculnya kehidupan baru, yakni munculnya jenis manusia purba. Zaman ini dikatakan  zaman  batu tua  karena  hasil  kebudayaan  terbuat  dari batu yang relatif masih  sederhana dan kasar. Kebudayaan zaman Paleolitikum   ini  secara  umum  ini  terbagi  menjadi  Kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong.

a.  Kebudayaan Pacitan
     Kebudayaan  ini  berkembang  di  daerah  Pacitan,  Jawa Timur.  Beberapa  alat  dari  batu  ditemukan  di  daerah  ini. Seorang  ahli,  von  Koenigwald  dalam  penelitiannya  pada tahun  1935  telah  menemukan  beberapa  hasil  teknologi bebatuan  atau  alat-alat  dari  batu  di  daerah  Punung.  Alat batu  itu  masih  kasar,  dan  bentuk  ujungnya  agak  runcing, tergantung kegunaannya. Alat batu ini sering disebut dengan kapak genggam atau kapak perimbas. Kapak ini digunakan untuk menusuk binatang atau menggali tanah saat mencari umbi-umbian.  Di  samping  kapak  perimbas,  di  Pacitan  juga ditemukan  alat batu yang disebut  dengan   chopper   sebagai alat penetak. Di Pacitan juga ditemukan alat-alat serpih.

b. Kebudayaan Ngandong
     Kebudayaan  Ngandong  berkembang  di  daerah Ngandong  dan  juga  Sidorejo,  dekat    Ngawi.  Di  daerah  ini banyak ditemukan alat-alat dari batu dan juga alat-alat dari tulang. Alat-alat dari tulang ini berasal dari tulang binatang dan  tanduk  rusa  yang  diperkirakan  digunakan  sebagai penusuk  atau  belati.  Selain  itu,  ditemukan  juga  alat-alat seperti tombak yang bergerigi.  Di Sangiran juga ditemukan  alat-alat dari  batu,  bentuknya  indah  seperti  kalsedon .  Alat-alat ini sering disebut dengan  flakke.

     Sebaran  artefak  dan  peralatan  paleolitik  cukup  luas sejak dari  daerah-daerah  di  Sumatra, Kalimantan,  Sulawesi, Bali,   Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Halmahera.


2.  Antara Pantai dan Gua

Zaman  batu  terus  berkembang  memasuki  zaman  batu madya  atau  batu  tengah  yang  dikenal zaman   mesolitikum.   Hasil kebudayaan batu madya ini sudah lebih maju apabila dibandingkan hasil kebudayaan zaman  paleolitikum . Sekalipun demikian bentuk dan  hasil-hasil  kebudayaan  zaman   paleolitikum   (batu  tua)  tidak serta  merta  punah  tetapi  mengalami  penyempurnaan.  Bentuk flakke  dan  alat-alat dari tulang  terus  mengalami perkembangan.  Secara  garis  besar  kebudayaan mesolitikum   ini  terbagi  menjadi  dua  kelompok besar  yang  ditandai  lingkungan  tempat  tinggal, yakni di pantai dan di gua.

a.  Kebudayaan Kjokkenmoddinger.
         Kjokkenmoddinger  istilah dari bahasa Denmark,  kjokken  berarti dapur dan  modding  dapat diartikan sampah ( kjokkenmoddinger  = sampah dapur). Dalam kaitannya dengan budaya  manusia,       kjokkenmoddinger  merupakan tumpukan  timbunan kulit siput dan kerang yang menggunung di sepanjang pantai Sumatra Timur antara Langsa di Aceh sampai Medan. Dengan  kjokkenmoddinger   ini dapat memberi informasi bahwa manusia  purba  zaman   mesolitikum     umumnya bertempat tinggal di tepi pantai. Pada tahun 1925 Von Stein Callenfals melakukan penelitian di bukit kerang itu dan menemukan jenis kapak genggam ( chopper )  yang  berbeda  dari   chopper   yang  ada di  zaman   paleolitikum .  Kapak  genggam  yang ditemukan di bukit kerang di pantai Sumatra Timur ini diberi nama  pebble  atau lebih dikenal dengan Kapak  Sumatra.  Kapak  jenis   pebble   ini  terbuat dari  batu  kali  yang  pecah,  sisi  luarnya  dibiarkan begitu saja dan sisi bagian dalam dikerjakan sesuai dengan  keperluannya.  Di  samping  kapak  jenis pebble   juga  ditemukan  jenis  kapak  pendek  dan  jenis  batu  pipisan   (batu-batu  alat penggiling).  Di Jawa batu pipisan ini umumnya untuk menumbuk dan menghaluskan jamu.

b. Kebudayaan Abris Sous Roche 
   Kebudayaan       abris  sous  roche   merupakan  hasil kebudayaan  yang  ditemukan  di  gua-gua.  Hal  ini mengindikasikan  bahwa  manusia  purba  pendukung kebudayaan ini tinggal di gua-gua. Kebudayaan ini pertama kali dilakukan penelitian oleh Von Stein Callenfels di Gua Lawa dekat  Sampung,  Ponorogo.  Penelitian  dilakukan Untuk mengetahui lebih tahun 1928 sampai 1931. Beberapa hasil teknologi dalam tentang Kebudayaan bebatuan yang ditemukan misalnya ujung panah, Kjokkenmoddinger   dan flakke,   batu  penggilingan.  Juga  ditemukan  alat-alat  dari  tulang  dan  tanduk  rusa.  Kebudayaan  abris  sous  roche   ini  banyak  ditemukan  misalnya di  Besuki,  Bojonegoro,  juga  di  daerah  Sulawesi Selatan seperti di Lamoncong.



3.  Sebuah Revolusi

Perkembangan  zaman  batu  yang  dapat dikatakan  paling  penting  dalam  kehidupan manusia adalah zaman batu baru atau  neolitikum.  Pada zaman  neolitikum  yang juga dapat dikatakan sebagai zaman batu muda. Pada zaman ini telah terjadi  “revolusi  kebudayaan”,  yaitu  terjadinya    perubahan pola hidup manusia.  Pola hidup  food gathering  digantikan dengan pola  food producing. Hal ini seiring dengan terjadinya perubahan jenis pendukung kebudayaanya. Pada zaman  ini telah hidup  jenis   Homo  sapiens   sebagai  pendukung kebudayaan  zaman  batu  baru.  Mereka  mulai mengenal bercocok tanam dan beternak sebagai proses  untuk  menghasilkan  atau  memproduksi bahan  makanan.  Hidup  bermasyarakat  dengan bergotong  royong  mulai  dikembangkan.  Hasil kebudayaan yang terkenal   di  zaman   neolitikum  ini  secara  garis  besar  dibagi  menjadi  dua  tahap   perkembangan.

a.  Kebudayaan kapak persegi
         Nama  kapak  persegi  berasal  dari penyebutan  oleh  von  Heine  Gelderen. Penamaan  ini  dikaitkan  dengan  bentuk alat  tersebut. Kapak  persegi  ini  berbentuk persegi  panjang  dan  ada  juga  yang berbentuk  trapesium.  Ukuran  alat  ini  juga bermacam-macam.  Kapak  persegi  yang besar  sering  disebut  dengan   beliung   atau pacul   (cangkul),  bahkan  sudah  ada  yang diberi  tangkai  sehingga  persis  seperti cangkul  zaman sekarang.  Sementara yang berukuran  kecil    dinamakan   tarah   atau  tatah.  Penyebaran  alat-alat  ini  terutama  di Kepulauan  Indonesia  bagian  barat,  seperti Sumatra,  Jawa dan Bali. Diperkirakan sentra-sentra teknologi kapak persegi ini ada di Lahat (Palembang),  Bogor,  Sukabumi,  Tasikmalaya (Jawa  Barat), kemudian  Pacitan-Madiun,  dan di  Lereng  Gunung  Ijen  (Jawa  Timur).  Yang menarik, di Desa  Pasirkuda dekat Bogor juga ditemukan  batu  asahan.  Kapak  persegi  ini cocok sebagai alat pertanian.

b. Kebudayaan kapak lonjong 
   Nama  kapak  lonjong  ini  disesuaikan dengan  bentuk  penampang  alat  ini  yang  berbentuk  lonjong.  Bentuk  keseluruhan  alat ini  lonjong  seperti  bulat  telur.  Pada  ujung yang   lancip   ditempatkan  tangkai  dan  pada bagian ujung yang lain diasah sehingga tajam. Kapak  yang  ukuran  besar  sering  disebut walzenbeil  dan yang kecil dinamakan  kleinbeil.  Penyebaran jenis kapak lonjong ini terutama di Kepulauan Indonesia bagian timur, misalnya di daerah Papua, Seram, dan Minahasa. Pada  zaman   neolitikum,   di  samping berkembangnya  jenis  kapak  batu  juga ditemukan  barang-barang  perhiasan,  seperti gelang dari batu, juga alat-alat gerabah  atau tembikar.

Perlu  kamu  ketahui  bahwa  manusia purba waktu itu sudah memiliki pengetahuan tentang  kualitas  bebatuan  untuk  peralatan. Penemuan  dari  berbagai  situs  menunjukkan bahan yang paling sering dipergunakan adalah jenis batuan kersikan ( silicified stones ), seperti gamping  kersikan,  tufa  kersikan,  kalsedon, dan jasper.  Jenis-jenis  batuan ini  di samping  keras,  sifatnya yang  retas  dengan  pecahan  yang  cenderung  tajam  dan tipis,  sehingga memudahkan  pengerjaan.  Di beberapa  situs yang  mengandung  fosil-fosil  kayu,  seperti  di  Kali  Baksoka (Jawa  Timur)  dan Kali Ogan  (Sumatra  Selatan)  tampak  ada upaya  pemanfaatan  fosil  untuk  bahan  peralatan.  Pada saat  lingkungan  tidak  menyediakan  bahan  yang  baik,  ada kecenderungan untuk  memanfaatkan batuan  yang  tersedia di sekitar hunian, walaupun kualitasnya kurang baik. Contoh semacam  ini  dapat  diamati  pada  situs  Kedunggamping  di sebelah timur Pacitan, Cibaganjing di Cilacap, dan Kali Kering di Sumba yang pada umumnya menggunakan bahan andesit untuk peralatan. 

c.  Perkembangan zaman logam

     Mengakhiri  zaman  batu  di  masa  neolitikum  mulailah zaman  logam.  Sebagai  bentuk  masa  perundagian.  Zaman logam  di  Kepulauan  Indonesia  ini  agak  berbeda  bila dibandingkan  dengan  yang  ada  di  Eropa.  Di  Eropa  zaman logam  ini  mengalami  tiga  fase,  zaman  tembaga,  perunggu dan besi. Di  Kepulauan Indonesia hanya mengalami  zaman perunggu dan besi. Zaman perunggu  merupakan fase yang  sangat  penting dalam  sejarah.  Beberapa contoh  benda-benda kebudayaan perunggu itu antara lain: kapak corong, nekara,  moko,  berbagai barang  perhiasan. Beberapa    benda    hasil kebudayaan zaman logam ini  juga  terkait  dengan   praktik  keagamaan  misalnya nekara.


Sumber :

Mengenal manusia purba

Mengenal Manusia Purba


     Mengamati lingkungan

Pernahkah kamu  mendengar  tentang  Situs  Manusia  Purba Sangiran?  Kini  Situs  Manusia Purba  Sangiran  telah  ditetapkan oleh  UNESCO  sebagai  warisan budaya  dunia,  tentu  ini  sangat membanggakan bangsa Indonesia.
Pengakuan tersebut tentu didasari berbagai  pertimbangan  yang kompleks.  Satu  di  antaranya karena  di  wilayah  tersebut tersimpan  ribuan  peninggalan manusia purba yang menunjukkan proses  kehidupan  manusia  dari masa lalu. Sangiran telah menjadi sentra kehidupan manusia purba.
Berbagai penelitian dari para ahli juga dilakukan di sekitar Sangiran. .Beberapa temuan fosil di Sangiran telah mendorong para ahli untuk    terus melakukan penelitian termasuk di luar Sangiran. Dari Sangiran kita mengenal beberapa jenis manusia purba di Indonesia. Setelah ditetapkan sebagai warisan dunia, Situs Manusia Purba  Sangiran  dikembangkan  sebagai  pusat  penelitian  dalam
negeri  dan  luar  negeri,  serta  sebagai  tempat  wisata.  Selain  itu Sangiran juga memberi manfaat kepada masyarakat di sekitarnya, karena pariwisata di daerah tersebut.

Untuk memahami jenis dan ciri-ciri manusia purba di Indonesia mari kita telaah bacaan berikut ini.

      Memahami Teks

Peninggalan manusia purba untuk sementara ini yang paling banyak ditemukan berada di Pulau Jawa. Meskipun di daerah lain tentu  juga  ada,  tetapi  para  peneliti  belum  berhasil  menemukan tinggalan  tersebut  atau  masih  sedikit  yang  berhasil  ditemukan, misalnya  di  Flores.  Di  bawah  ini  akan  dipaparkan  beberapa penemuan penting fosil manusia di beberapa tempat.

1.   Sangiran
Perjalanan kisah perkembangan manusia di dunia tidak dapat kita  lepaskan  dari  keberadaan  bentangan  luas  perbukitan tandus yang  berada  diperbatasan  Kabupaten  Sragen  dan  Kabupaten Karanganyar.  Lahan  itu  dikenal  dengan  nama  Situs  Sangiran.  Di dalam  buku  Harry  Widianto  dan  Truman  Simanjuntak,      Sangiran Menjawab  Dunia   diterangkan  bahwa  Sangiran  merupakan sebuah  kompleks  situs  manusia  purba  dari  Kala  Pleistosen  yang paling lengkap dan  paling  penting di Indonesia, dan bahkan di Asia.

Lokasi  tersebut  merupakan  pusat  perkembangan  manusia  dunia,  yang  memberikan  petunjuk  tentang  keberadaan manusia  sejak  150.000  tahun  yang  lalu.  Situs Sangiran  itu  mempunyai  luas  delapan  kilometer pada arah utara-selatan dan tujuh kilometer arah timur-barat.  Situs  Sangiran  merupakan  suatu kubah  raksasa  yang  berupa  cekungan  besar di  pusat  kubah  akibat  adanya  erosi  di  bagian puncaknya.  Kubah  raksasa  itu  diwarnai  dengan  perbukitan yang bergelombang. Kondisi deformasi geologis itu menyebabkan tersingkapnya berbagai lapisan  batuan  yang  mengandung  fosil-fosil manusia  purba  dan  binatang,  termasuk  artefak. Berdasarkan  materi  tanahnya,  Situs  Sangiran berupa endapan lempung hitam dan pasir fluvio-volkanik,    tanahnya  tidak  subur  dan  terkesan gersang pada musim kemarau.

Sangiran  pertama  kali  ditemukan  oleh  P.E.C.  Schemulling tahun 1864, dengan laporan penemuan fosil vertebrata dari Kalioso, bagian  dari  wilayah  Sangiran.  Semenjak  dilaporkan  Schemulling situs  itu  seolah-olah terlupakan  dalam waktu yang  lama.  Eugene Dubois  juga  pernah  datang  ke  Sangiran,  akan  tetapi  ia  kurang tertarik  dengan  temuan-temuan di wilayah Sangiran.  Pada 1934, G.H.R    von    Koenigswald  menemukan  artefak  litik  di  wilayah Ngebung yang terletak sekitar dua km di barat laut kubah Sangiran. Artefak litik itulah yang kemudian menjadi temuan penting bagi Situs Sangiran.  Semenjak  penemuan  von  Koenigswald,  Situs  Sangiran menjadi  sangat  terkenal  berkaitan  dengan  penemuan-penemuan fosil  Homo erectus  secara sporadis dan berkesinambungan.  Homo erectus   adalah  takson  paling  penting  dalam  sejarah  manusia, sebelum  masuk  pada  tahapan  manusia   Homo  sapiens ,  manusia modern.

Situs  Sangiran  tidak  hanya  memberikan  gambaran  tentang evolusi fisik manusia saja, akan tetapi juga memberikan gambaran nyata  tentang  evolusi  budaya,  binatang,  dan  juga  lingkungan. Beberapa fosil yang ditemukan dalam seri geologis-stratigrafis yang diendapkan tanpa  terputus  selama  lebih   dari   dua   juta   tahun, menunjukan  tentang  hal  itu.  Situs  Sangiran  telah  diakui  sebagai salah satu pusat evolusi manusia di dunia. Situs itu ditetapkan secara resmi sebagai  Warisan  Dunia  pada  1996,  yang  tercantum  dalam nomor 593 Daftar Warisan Dunia ( World Heritage List ) UNESCO.

Perhatikan  baik-baik  gambar  fosil manusia purba di samping, fosil  itu juga disebut sebagai  Sangiran  17  sesuai  dengan  nomor  seri penemuannya.  Fosil  itu  merupakan  fosil   Homo erectus  yang terbaik di Sangiran. Ia ditemukan di endapan  pasir  fluvio-volkanik  di  Pucang,  bagian wilayah  Sangiran.  Fosil  itu  merupakan  dua  di antara  Homo erectus  di dunia yang masih lengkap dengan mukanya. Satu ditemukan di Sangiran dan .
satu lagi di Afrika.

 2.     Trinil, Ngawi, Jawa Timur
Trinil adalah sebuah desa di pinggiran Bengawan Solo, masuk wilayah administrasi   Kabupaten  Ngawi,  Jawa  Timur. Tinggalan purbakala telah lebih dulu ditemukan di daerah ini  jauh  sebelum von  Koenigswald  menemukan  Sangiran  pada  1934.  Ekskavasi yang  dilakukan    oleh    Eugene  Dubois  di  Trinil  telah  membawa penemuan    sisa-sisa    manusia  purba  yang  sangat  berharga  bagi dunia  pengetahuan.  Penggalian  Dubois  dilakukan  pada  endapan alluvial Bengawan Solo. Dari lapisan ini ditemukan atap tengkorak Pithecanthropus erectus , dan beberapa buah tulang paha (utuh dan fragmen) yang menunjukkan pemiliknya telah berjalan tegak.
Tengkorak  Pithecanthropus erectus  dari Trinil sangat  pendek  tetapi  memanjang  ke  belakang. Volume otaknya sekitar 900 cc, di  antara otak kera (600 cc) dan otak manusia  modern  (1.200-1.400 cc). Tulang kening sangat menonjol dan di bagian belakang mata, terdapat penyempitan yang sangat jelas, menandakan otak yang belum berkembang. Pada bagian  belakang kepala terlihat bentuk yang meruncing  yang  diduga  pemiliknya  merupakan perempuan.  Berdasarkan  kaburnya  sambungan perekatan antar  tulang kepala,  ditafsirkan inividu ini  telah  mencapai  usia  dewasa.  Selain  tempat-tempat di atas, peninggalan manusia purba tipe ini juga ditemukan di Perning, Mojokerto, Jawa Timur; Ngandong, Blora, Jawa  Tengah;  Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah.
Berdasarkan  beberapa  penelitian  yang  dilakukan  oleh  para
ahli,  dapatlah direkonstruksi   beberapa  jenis  manusia purba yang
pernah hidup di zaman praaksara.

1.  Jenis Meganthropus
Jenis manusia purba ini terutama berdasarkan penelitian von  Koenigswald  di  Sangiran  tahun  1936  dan  1941  yang menemukan fosil rahang manusia yang berukuran besar. Dari hasil  rekonstruksi  ini  kemudian  para  ahli  menamakan  jenis manusia  ini  dengan  sebutan   Meganthropus  paleojavanicus , artinya  manusia  raksasa  dari  Jawa.  Jenis  manusia  purba
ini  memiliki  ciri  rahang  yang  kuat  dan  badannya  tegap. Diperkirakan  makanan  jenis  manusia  ini  adalah  tumbuh-tumbuhan.  Masa  hidupnya  diperkirakan  pada  zaman Pleistosen Awal.

2.  Jenis Pithecanthropus
Jenis  manusia  ini  didasarkan  pada  penelitian  Eugene Dubois tahun 1890 di dekat Trinil, sebuah desa di pinggiran Bengawan  Solo,  di  wilayah  Ngawi.  Setelah  direkonstruksi terbentuk  kerangka  manusia,  tetapi  masih terlihat  tanda-tanda  kera.  Oleh  karena  itu jenis ini dinamakan  Pithecanthropus erectus , artinya   manusia kera  yang  berjalan tegak. Jenis  ini  juga  ditemukan  di  Mojokerto, sehingga  disebut         Pithecanthropus  mojokertensis .  Jenis  manusia  purba    yang  juga terkenal sebagai rumpun  Homo erectus  ini  paling  banyak  ditemukan  di  Indonesia.    Diperkirakan  jenis manusia purba ini  hidup     dan  berkembang  sekitar  zaman  Pleistosen
Tengah.

 3.  Jenis Homo
Fosil jenis Homo ini pertama diteliti oleh von Reitschoten di Wajak. Penelitian dilanjutkan oleh Eugene Dubois bersama kawan-kawan  dan  menyimpulkan  sebagai  jenis  Homo. Ciri-ciri  jenis  manusia  Homo  ini  muka  lebar,  hidung  dan mulutnya  menonjol.  Dahi  juga  masih  menonjol,  sekalipun tidak  semenonjol  jenis  Pithecanthropus.  Bentuk fisiknya tidak jauh berbeda dengan manusia sekarang. Hidup  dan perkembangan  jenis manusia ini  sekitar
40.000  –  25.000  tahun  yang  lalu.  Tempat-tempat penyebarannya tidak hanya di Kepulauan Indonesia tetapi juga di Filipina dan Cina Selatan.

 Uraian mengenai jenis-jenis manusia ini selengkapnya dapat juga dibaca pada buku  Harry Widianto dan Truman Simanjuntak, 
Sangiran Menjawab Dunia

Homo  sapiens   artinya  ‘manusia  sempurna’ baik dari  segi  fisik,  volume  otak maupun  postur  badannya yang  secara  umum  tidak  jauh  berbeda  dengan  manusia modern.  Kadang-kadang   Homo  sapiens   juga  diartikan
dengan ‘manusia bijak’  karena telah lebih  maju  dalam berfikir dan menyiasati tantangan alam. Bagaimanakah mereka  muncul  ke  bumi  pertama  kali  dan  kemudian menyebar  dengan  cepat ke  berbagai  penjuru  dunia hingga saat ini?  Para ahli paleoanthropologi dapat  melukiskan  perbedaan  morfologis  antara   Homo sapiens   dengan  pendahulunya,   Homo  erectus .
Rangka   Homo  sapiens   kurang  kekar  posturnya  dibandingkan   Homo  erectus .  Salah  satu  alasannya  karena tulang  belulangnya  tidak  setebal  dan  sekompak        Homo erectus.




Hal  ini  mengindikasikan  bahwa  secara  fisik       Homo sapiens  jauh lebih lemah dibanding sang pendahulu tersebut. Di  lain  pihak,  ciri-ciri  morfologis  maupun  biometriks   Homo sapiens  menunjukkan karakter yang lebih berevolusi dan lebih modern dibandingkan dengan  Homo erectus . Sebagai misal, karakter evolutif yang paling signifikan adalah bertambahnya kapasitas otak.  Homo sapiens  mempunyai kapasitas otak yang jauh lebih besar (rata-rata 1.400 cc), dengan atap tengkorak yang jauh lebih bundar dan lebih tinggi dibandingkan dengan Homo  erectus   yang  mempunyai  tengkorak  panjang  dan rendah, dengan kapasitas otak 1.000 cc.

Segi-segi  morfologis  dan  tingkatan  kepurbaannya menunjukkan ada perbedaan yang sangat nyata antara kedua spesies dalam genus Homo tersebut.  Homo sapiens  akhirnya tampil sebagai spesies yang sangat tangguh dalam beradaptasi dengan lingkungannya, dan dengan cepat menghuni berbagai permukaan dunia ini.



Berdasarkan  bukti-bukti  penemuan,  sejauh  ini  manusia modern awal di Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara paling tidak telah hadir sejak 45.000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, kehidupan  manusia  modern ini  dapat  dikelompokkan  dalam  tiga tahap, yaitu (i) kehidupan manusia modern awal yang kehadirannya hingga  akhir  zaman  es  (sekitar  12.000  tahun  lalu),  kemudian dilanjutkan  oleh  (ii)  kehidupan  manusia  modern  yang  lebih belakangan,  dan  berdasarkan  karakter  fisiknya  dikenal  sebagai ras Austromelanesoid. (iii) mulai di sekitar 4000 tahun lalu muncul penghuni  baru  di  Kepulauan  Indonesia  yang  dikenal  sebagai penutur bahasa Austronesia. Berdasarkan karakter fisiknya, makhluk manusia ini tergolong dalam ras Mongolid. Ras inilah yang kemudian berkembang hingga menjadi bangsa Indonesia sekarang.

 Beberapa spesimen (penggolongan) manusia   Homo sapiens  dapat dikelompokkan sebagai berikut,
a.  Manusia Wajak
Manusia  Wajak  ( Homo    wajakensis )  merupakan  satu-satunya  temuan  di  Indonesia  yang  untuk  sementara  dapat disejajarkan  perkembangannya  dengan  manusia  modern awal dari  akhir  Kala  Pleistosen. Pada  tahun  1889,  manusia Wajak ditemukan oleh B.D. van Rietschoten di sebuah ceruk di lereng pegunungan karst di barat laut Campurdarat, dekat Tulungagung, Jawa Timur.

b.  Manusia Liang Bua
Pengumuman  tentang  penemuan  manusia      Homo floresiensis   tahun  2004  menggemparkan  dunia  ilmu pengetahuan.  Sisa-sisa  manusia  ditemukan  di  sebuah  gua Liang Bua oleh tim peneliti gabungan Indonesia dan Australia. Sebuah  gua  permukiman  prasejarah  di  Flores.  Liang  Bua bila  diartikan  secara  harfiah  merupakan  sebuah  gua  yang dingin.  Sebuah  gua  yang  sangat  lebar  dan  tinggi  dengan permukaan tanah yang datar, merupakan tempat bermukim yang nyaman bagi manusia pada masa praaksara. Hal itu bisa dilihat dari kondisi lingkungan sekitar gua yang sangat indah, yang berada di sekitar bukit dengan kondisi tanah yang datar di depannya. Liang Bua merupakan sebuah temuan manusia modern  awal  dari  akhir  masa  Pleistosen  di  Indonesia  yang menakjubkan  yang  diharapkan  dapat  menyibak  asal  usul manusia di Kepulauan Indonesia.


Manusia  Liang  Bua ditemukan  oleh  Peter  Brown  dan Mike J. Morwood pada bulan September 2003 lalu. Temuan itu dianggap sebagai penemuan spesies baru yang kemudian diberi  nama   Homo  floresiensis ,  sesuai  dengan  tempat ditemukannya fosil manusia Liang Bua.


Sumber :



Sebelum Mengenal tulisan

Sebelum Mengenal Tulisan

     Mengamati Lingkungan

  Kutipan di atas menunjukkan bahwa  keberadaan tanah air kita tidak dapat dilepaskan dari rangkaian peristiwa alam yang sudah terjadi sejak zaman dahulu kala. Jadi, dinamika sejarah yang telah bermula sejak manusia ada, jika dirunut hingga sekarang, kita akan menemukan betapa kesinambungan sejarah tidak mudah terputus, betapapun  segala  macam  perubahan  telah  terjadi.  Coba  kamu renungkan, apakah yang terjadi ketika tawuran anak-anak sekolah berlangsung? Bukankah sering kali mereka saling melempar batu?
Batu pula senjata yang paling awal digunakan umat manusia dalam mempertahankan  hidupnya. Jadi  anak  sekolah di  zaman modern ini—zaman yang bahkan dikatakan “era globalisasi”, ketika tiada lagi batas-batas  yang  menghambat  hubungan  kebudayaan—ternyata masih mempraktikkan tradisi manusia purba pada masa praaksara. Untuk mengetahui apa, siapa, dan bagaimana kehidupan manusia zaman praaksara kamu dapat mempelajari bacaan di bawah ini.

Manusia purba tidak mengenal tulisan dalam kebudayaannya. Periode  kehidupan  ini  dikenal  dengan  zaman  praaksara.  Masa praaksara berlangsung sangat lama jauh melebihi periode kehidupan manusia  yang  sudah  mengenal  tulisan.  Oleh  karena  itu,  untuk dapat memahami perkembangan kehidupan manusia pada zaman praaksara kita perlu mengenali tahapan-tahapannya.

     Memahami Teks

Sebelum  mengenali  tahapan-tahapan  atau  pembabakan perkembangan  kehidupan  dan  kebudayaan  zaman  praaksara, perlu  kamu  ketahui  lebih  dalam  apa  yang  dimaksud  zaman praaksara. Praaksara adalah istilah baru untuk menggantikan istilah prasejarah. Penggunaan istilah  prasejarah untuk menggambarkan perkembangan kehidupan dan budaya manusia saat belum mengenal tulisan adalah kurang tepat.  Pra  berarti sebelum dan  sejarah  adalah
sejarah sehingga prasejarah berarti  sebelum ada sejarah. Sebelum ada sejarah berarti sebelum ada aktivitas kehidupan manusia. Dalam kenyataannya  sekalipun  belum  mengenal  tulisan,  makhluk  yang dinamakan manusia sudah memiliki sejarah dan sudah menghasilkan kebudayaan.  Oleh  karena  itu,  para  ahli  mempopulerkan  istilah praaksara untuk menggantikan istilah prasejarah.

Praaksara berasal dari dua kata, yakni  pra  yang berarti sebelum dan  aksara  yang berarti tulisan. Dengan demikian zaman praaksara adalah  masa  kehidupan  manusia  sebelum mengenal  tulisan.  Ada istilah yang mirip dengan istilah praaksara, yakni istilah  nirleka .  Nir  berarti tanpa dan  leka  berarti tulisan. Karena belum ada tulisan maka untuk  mengetahui  sejarah  dan  hasil-hasil  kebudayaan  manusia adalah dengan melihat beberapa sisa peninggalan yang dapat kita temukan. Kapan waktu dimulainya zaman praaksara? Kapan zaman praaksara itu berakhir? Zaman praaksara dimulai sudah tentu sejak manusia ada, itulah titik dimulainya masa praaksara. Zaman praaksara berakhir  setelah  manusianya  mulai  mengenal  tulisan.  Pertanyaan yang sulit untuk dijawab adalah kapan tepatnya manusia itu mulai ada  di  bumi  ini  sebagai  pertanda  dimulainya  zaman  praaksara. Sampai  sekarang  para  ahli  belum  dapat  secara  pasti  menunjuk waktu kapan mulai ada manusia di muka bumi ini. Tetapi yang jelas untuk menjawab pertanyaan itu kamu perlu memahami kronologi perjalanan kehidupan di permukaan bumi yang rentang waktunya sangat panjang. Bumi yang kita huni sekarang diperkirakan mulai terjadi sekitar 2.500 juta tahun yang lalu. Untuk memperkaya pengetahuan tentang hal  Bagaimana  kalau  kita  ingin  melakukan  ini, kamu bisa membaca kajian  tentang  kehidupan  zaman  praaksara?
Untuk  menyelidiki  zaman  praaksara,  para sejarawan  harus  menggunakan  metode penelitian ilmu arkeologi dan sedikit banyak juga  pada ilmu alam seperti geologi dan biologi. Ilmu arkeologi  adalah  bidang  ilmu  yang  mengkaji bukti-bukti  atau  jejak  tinggalan  fisik,  seperti  lempeng  artefak, monumen,  candi  dan  sebagainya.  Berikutnya  menggunakan  ilmu geologi  dan  percabangannya,  terutama  yang  berkenaan  dengan pengkajian usia lapisan bumi dan biologi berkenaan dengan kajian tentang ragam hayati ( biodiversitas ) makhluk hidup. Mengingat jauhnya jarak waktu masa praaksara dengan kita sekarang, maka tidak jarang orang mempersoalkan apa  perlunya kita belajar tentang zaman praaksara yang sudah lama ditinggalkan oleh  manusia  modern.  Tetapi  pandangan  seperti  ini  sungguh menyesatkan, sebab tentu ada hubungannya dengan kekinian kita. Beberapa di antaranya akan dikemukakan berikut ini.

Data etnografi yang menggambarkan kehidupan masyarakat praaksara ternyata masih berlangsung sampai sekarang. Entah itu pola  hunian, pola  pertanian  subsistensi, teknologi  tradisional  dan konsepsi kepercayaan tentang hubungan harmoni antara manusia dan alam, bahkan kebiasaan memelihara hewan seperti anjing dan kucing  di lingkungan manusia  modern perkotaan.  Demikian pula kebiasaan bertani  merambah  hutan  dengan  motede  ‘tebang  lalu bakar’ ( slash  and  burn ) untuk  memenuhi  kebutuhan secukupnya masih  ada  hingga  kini.  Namun, kebiasaan  merambah  hutan  dan hidup  berpindah-pindah  pada  masa  lampau  tidak  menimbulkan malapetaka asap yang mengganggu penerbangan domestik. Selain itu,  juga  mengganggu  bandara  negara  tetangga  Singapura  dan Malaysia seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini. Teknologi manusia modernlah  yang  mampu  melakukan  perambahan  hutan  secara besar-besaran,  entah  itu  untuk  perkebunan  atau  pertambangan, dan  permukiman   real  estate   sehingga  menimbulkan  malapetaka kabut asap dan kerusakan lingkungan.

Arti  penting  dari  pembelajaran  tentang  sejarah  kehidupan zaman  praaksara  pertama-tama  adalah  kesadaran  akan  asal-usul manusia.  Tumbuhan memiliki  akar. Semakin tinggi  tumbuhan itu, semakin  dalam  pula  akarnya  menghunjam  ke bumi  hingga  tidak mudah  tumbang  dari  terpaan  angin  badai  atau  bencana  alam lainnya. Demikian pula halnya dengan manusia. Semakin berbudaya seseorang atau kelompok masyarakat, semakin dalam pula kesadaran kolektifnya  tentang  asal  usul  dan  penghargaan  terhadap  tradisi. Jika  tidak demikian,  manusia yang melupakan  budaya bangsanya akan mudah  terombang  ambing oleh terpaan budaya asing  yang lebih  kuat,  sehingga  dengan  sendirinya  kehilangan  identitas  diri. Jadi bangsa yang gampang meninggalkan tradisi nenek moyangnya akan  mudah  didikte  oleh  budaya  dominan  dari  luar  yang  bukan miliknya.

Kita  bisa  belajar  banyak  dari  keberhasilan  dan  capaian prestasi terbaik dari pendahulu kita. Sebaliknya kita juga belajar dari kegagalan mereka yang telah menimbulkan malapetaka bagi dirinya atau  bagi banyak orang. Untuk memetik pelajaran dari uraian ini, dapat  kita  katakan  bahwa  nilai  terpenting  dalam  pembelajaran sejarah tentang zaman praaksara,  dan sesudahnya ada  dua yaitu sebagai inspirasi untuk pengembangan nalar kehidupan dan sebagai peringatan. Selebihnya kecerdasan dan pikiran-pikiran kritislah yang akan menerangi kehidupan masa kini dan masa depan.

Sekarang  muncul pertanyaan, sejak kapan zaman  praaksara berakhir? Sudah barang tentu zaman praaksara itu berakhir setelah kehidupan  manusia mulai mengenal  tulisan.  Terkait  dengan masa berakhirnya zaman praaksara masing-masing tempat akan berbeda. Penduduk  di  Kepulauan  Indonesia  baru  memasuki  masa  aksara sekitar  abad  ke-4  dan ke-5  M.  Hal  ini  jauh    lebih  terlambat  bila dibandingkan di tempat lain misalnya Mesir dan  Mesopotamia yang sudah mengenal tulisan  sejak sekitar tahun 3000 S.M. Fakta-fakta masa aksara di Kepulauan Indonesia dihubungkan dengan temuan prasasti peninggalan kerajaan tua seperti Kerajaan Kutai di Muara Kaman, Kalimantan Timur.



Sumber :

Terbentuknya Kepulauan Indonesia

Terbentuknya Kepulauan Indonesia

     Mengamati lingkungan

Bumi  kita  yang  terhampar  luas  ini  diciptakan  Tuhan  Yang Maha Pencipta untuk kehidupan dan kepentingan hidup manusia. Di bumi ini hidup berbagai flora dan fauna serta tempat bersemainya manusia dengan keturunannya. Di bumi ini kita bisa menyaksikan keindahan  alam,  kita  bisa  beraktivitas  dan  berikhtiar  memenuhi kebutuhan hidup kita. Namun harus dipahami bahwa bumi kita juga sering menimbulkan bencana.  Sebagai contoh munculnya aktivitas lempeng  bumi  yang  kemudian  melahirkan  gempa  bumi  baik tektonis maupun vulkanis, bahkan sampai  menimbulkan tsunami.
Sebagai  contoh  tentu  kamu  masih  ingat  bagaimana  gempa  dan tsunami yang terjadi di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, di Papua dan  beberapa  di  daerah  lain,  termasuk  beberapa  gunung berapi meletus.  Bencana  tersebut  telah  mengakibatkan  ribuan  nyawa hilang dan harta benda melayang.

Fenomena  alam  yang  terjadi  itu  merupakan  bagian  tak terpisahkan dari aktivitas panjang bumi kita sejak proses terjadinya alam  semesta  ratusan bahkan ribuan juta tahun yang lalu.  Proses tersebut  secara  geologis  mengalami  beberapa  tahapan  atau pembabakan  waktu.  Berikut  ini  kita  mencoba  menelaah  tentang pembabakan waktu alam secara geologis dan bagaimana Kepulauan Indonesia terbentuk.


     Memahami Teks

Ada  banyak  teori  dan  penjelasan  tentang  penciptaan bumi,  mulai  dari  mitos  sampai  kepada  penjelasan  agama  dan ilmu  pengetahuan.  Kali  ini  kamu  belajar  sejarah  sebagai  cabang keilmuan, pembahasannya adalah pendekatan ilmu pengetahuan, yakni  asumsi-asumsi  ilmiah,  yang  kiranya  juga  tidak  perlu bertentangan  dengan  ajaran  agama.  Salah  satu  di  antara  teori ilmiah tentang terbentuknya bumi adalah Teori  “Dentuman Besar” ( Big  Bang ), seperti dikemukaan oleh  sejumlah  ilmuwan  dan yang mutakhir seperti ilmuwan besar  Inggris,  Stephen  Hawking.  
Teori ini menyatakan bahwa alam semesta mulanya berbentuk gumpalan gas yang mengisi seluruh ruang jagad raya. Jika digunakan teleskop besar  Mount  Wilson  untuk  mengamatinya  akan  terlihat  ruang jagad raya itu luasnya mencapai radius 500.000.000 tahun cahaya. Gumpalan gas itu suatu saat meledak dengan satu dentuman yang amat dahsyat.  Setelah  itu,  materi yang terdapat di  alam  semesta mulai berdesakan satu sama lain dalam kondisi suhu dan kepadatan yang  sangat tinggi, sehingga hanya tersisa energi  berupa proton, neutron dan elektron, yang bertebaran ke seluruh arah. Ledakan  dahsyat  itu  menimbulkan  gelembung-gelembung alam semesta yang menyebar dan menggembung ke seluruh penjuru, sehingga  membentuk  galaksi-galaksi  bintang-bintang,  matahari, planet-planet, bumi, bulan dan meteorit. 
Bumi kita hanyalah salah satu titik kecil saja di antara tata surya yang mengisi jagad semesta. Di samping itu banyak planet lain termasuk bintang-bintang yang menghiasi langit yang tak terhitung jumlahnya. Boleh jadi ukurannya jauh  lebih  besar  dari  planet  bumi.  Bintang-bintang  berkumpul dalam suatu gugusan, meskipun antarbintang berjauhan letaknya di angkasa.  Ada juga ilmuwan astronomi yang mengibaratkan galaksi bintang-bintang  itu  tak ubahnya seperti sekumpulan  anak ayam, yang tak mungkin dipisahkan dari induknya. Jadi di mana ada anak ayam di situ pasti ada induknya. Seperti halnya dengan anak-anak ayam, bintang-bintang di angkasa tak mungkin gemerlap sendirian tanpa  disandingi  dengan  bintang  lainnya.  Sistem  alam  semesta dengan semua  benda  langit  sudah tersusun  secara  menakjubkan dan masing-masing beredar secara teratur dan rapi pada sumbunya masing-masing.
Selanjutnya proses evolusi alam semesta itu memakan waktu kosmologis  yang  sangat  lama  sampai  beribu-ribu  juta  tahun. Terjadinya evolusi bumi sampai adanya kehidupan memakan waktu yang sangat panjang. Ilmu palaentologi membaginya dalam enam tahap waktu geologis. Masing-masing ditandai oleh peristiwa alam yang  menonjol,  seperti  munculnya  gunung-gunung,  benua  dan makhluk hidup yang paling sederhana. Proses evolusi bumi dibagi menjadi beberapa periode sebagai berikut.

1 .  Azoicum  (Yunani:  a   =  tidak;   zoon   = hewan),    yaitu  zaman sebelum adanya kehidupan. Pada saat ini bumi baru terbentuk dengan  suhu  yang  relatif  tinggi.  Waktunya  lebih  dari  satu milyar tahun lalu.

2.  Palaezoicum , yaitu zaman purba tertua. Pada masa ini sudah meninggalkan  fosil  flora  dan  fauna.  Berlangsung  kira-kira 350.000.000 tahun.

3.   Mesozoicum , yaitu zaman purba tengah. Pada masa ini hewan mamalia  (menyusui),  hewan amfibi,  burung dan  tumbuhan berbunga mulai ada. Lamanya kira-kira 140.000.000 tahun.

4.   Neozoicum ,  yaitu  zaman  purba  baru,  yang  dimulai  sejak 60.000.000  tahun  yang  lalu.  Zaman  ini  dapat  dibagi  lagi menjadi  dua  tahap  ( Tersier   dan   Quarter ),  zaman  es  mulai menyusut dan makhluk-makhluk tingkat tinggi dan manusia mulai hidup.

Merujuk  pada  tarikh  bumi  di  atas,  sejarah  di  Kepulauan Indonesia terbentuk melalui proses yang panjang dan rumit. Sebelum bumi didiami manusia, kepulauan  ini  hanya  diisi  tumbuhan flora dan fauna yang masih sangat kecil dan sederhana. Alam juga harus menjalani evolusi terus menerus untuk menemukan keseimbangan agar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi alam dan iklim,  sehingga  makhluk  hidup  dapat  bertahan  dan berkembang biak mengikuti seleksi alam.

Gugusan  kepulauan  ataupun  wilayah  maritim  seperti  yang kita temukan  sekarang  ini terletak di  antara dua  benua  dan  dua samudera, antara Benua Asia di utara dan Australia di selatan, antara Samudera Hindia di barat  dan  Samudera Pasifik di belahan  timur. Faktor letak ini memainkan peran strategis sejak zaman kuno sampai sekarang.  Namun  sebelum  itu  marilah  kita  sebentar  berkenalan dengan kondisi alamnya, terutama unsur-unsur geologi atau unsur-unsur  geodinamika  yang  sangat  berperan  dalam  pembentukan Kepulauan Indonesia.

Menurut  para  ahli  bumi,  posisi  pulau-pulau  di  Kepulauan Indonesia terletak di atas tungku api yang bersumber dari magma dalam perut bumi. Inti perut bumi tersebut berupa lava cair bersuhu sangat tinggi. Makin ke dalam tekanan dan suhunya semakin tinggi. Pada suhu yang tinggi itu material-material akan meleleh sehingga material di bagian dalam bumi selalu berbentuk cairan panas. Suhu tinggi ini  terus menerus bergejolak  mempertahankan  cairan  sejak jutaan  tahun  lalu.  Ketika ada  celah lubang keluar, cairan tersebut keluar berbentuk  lava  cair.  Ketika  lava mencapai  permukaan  bumi,  suhu menjadi  lebih  dingin  dari  ribuan derajat  menjadi  hanya  bersuhu normal  sekitar  30  derajat.  Pada suhu ini cairan lava akan membeku membentuk batuan beku atau kerak. Keberadaan  kerak  benua  (daratan) dan kerak samudera selalu bergerak secara  dinamis  akibat  tekanan magma dari perut bumi. Pergerakan unsur-unsur geodinamika ini dikenal sebagai kegiatan tektonis.

Sebagian wilayah di Kepulauan Indonesia  merupakan  titik  temu  di antara tiga lempeng, yaitu lempeng Indo-Australia  di  selatan,  Lempeng Eurasia di utara dan Lempeng Pasifik di  timur.  Pergerakan  lempeng-lempeng  tersebut  dapat  berupa subduksi  (pergerakan  lempeng  ke  atas),  obduksi  (pergerakan lempeng  ke  bawah)  dan  kolisi  (tumbukan  lempeng).  Pergerakan dapat berupa pemisahan atau  divergensi  (tabrakan) lempeng-lempeng.  Pergerakan  mendatar  berupa  pergeseran  lempeng-lempeng  tersebut  masih  terus  berlangsung  hingga  sekarang.
Perbenturan  lempeng-lempeng  tersebut  menimbulkan  dampak yang berbeda-beda. Namun semuanya telah menyebabkan wilayah Kepulauan  Indonesia  secara  tektonis  merupakan  wilayah  yang sangat aktif dan labil hingga rawan gempa sepanjang waktu. Pada  masa   Paleozoikum   (masa  kehidupan  tertua)  keadaan geografis Kepulauan Indonesia belum terbentuk seperti sekarang ini. Di kala itu wilayah ini masih merupakan bagian dari samudera yang sangat luas, meliputi  hampir seluruh bumi.  Pada  fase berikutnya, yaitu  pada  akhir  masa   Mesozoikum ,  sekitar  65  juta  tahun  lalu, kegiatan tektonis itu menjadi sangat aktif menggerakkan lempeng-
lempeng  Indo-Australia,  Eurasia  dan  Pasifik.  Kegiatan  ini  dikenal sebagai fase  tektonis ( orogenesa  laramy ), sehingga  menyebabkan daratan terpecah-pecah. Benua Eurasia menjadi pulau-pulau  yang terpisah  satu  dengan  lainnya. Sebagian  di  antaranya  bergerak  ke selatan  membentuk  pulau-pulau  Sumatra,  Jawa,  Kalimantan, Sulawesi serta pulau-pulau di Nusa Tenggara Barat dan Kepulauan Banda. Hal yang sama juga terjadi pada Benua Australia. Sebagian pecahannya  bergerak  ke  utara  membentuk  pulau-pulau  Timor, Kepulauan Nusa Tenggara Timur  dan sebagian Maluku  Tenggara. Pergerakan pulau-pulau hasil pemisahan dari kedua benua tersebut telah  mengakibatkan  wilayah  pertemuan  keduanya  sangat  labil. Kegiatan  tektonis  yang  sangat  aktif  dan  kuat  telah  membentuk rangkaian  Kepulauan Indonesia pada masa  Tersier  sekitar 65 juta tahun lalu.

Sebagian besar daratan Sumatra, Kalimantan dan Jawa telah tenggelam  menjadi laut  dangkal  sebagai  akibat terjadinya  proses kenaikan permukaan laut atau  transgresi . Sulawesi pada masa  itu sudah  mulai  terbentuk,  sementara  Papua  sudah  mulai  bergeser ke utara, meski masih didominasi oleh cekungan sedimentasi laut dangkal  berupa  paparan  dengan  terbentuknya  endapan  batu gamping.  Pada  kala   Pliosen   sekitar  lima  juta  tahun  lalu,  terjadi pergerakan  tektonis  yang  sangat  kuat,  yang  mengakibatkan terjadinya  proses  pengangkatan  permukaan  bumi  dan  kegiatan vulkanis. Ini pada gilirannya menimbulkan tumbuhnya (atau mungkin lebih  tepat  terbentuk)    rangkaian  perbukitan  struktural  seperti perbukitan besar (gunung), dan perbukitan lipatan serta rangkaian gunung  api  aktif  sepanjang  gugusan  perbukitan  itu.  Kegiatan tektonis dan vulkanis terus aktif hingga awal masa  Pleistosen , yang dikenal sebagai kegiatan tektonis  Plio-Pleistosen . Kegiatan tektonis ini berlangsung di seluruh Kepulauan Indonesia.
Gunung api aktif dan rangkaian perbukitan struktural tersebar di sepanjang bagian barat Pulau Sumatra, berlanjut ke  sepanjang Pulau Jawa  ke arah timur hingga Kepulauan Nusa  Tenggara serta Kepulauan  Banda.  Kemudian  terus  membentang  sepanjang Sulawesi Selatan  dan Utara.  Pembentukan  daratan  yang  semakin luas itu  telah  membentuk  Kepulauan  Indonesia  pada  kedudukan pulau-pulau seperti sekarang ini. Hal itu telah berlangsung sejak kala Pliosen  hingga awal  Pleistosen  (1,8 juta tahun lalu). Jadi pulau-pulau di  kawasan Kepulauan  Indonesia  ini masih  terus  bergerak  secara dinamis, sehingga tidak heran jika masih sering terjadi gempa, baik vulkanis maupun tektonis.

Letak Kepulauan Indonesia yang berada pada deretan gunung api membuatnya menjadi daerah dengan tingkat keanekaragaman flora  dan  fauna  yang  sangat  tinggi.  Kekayaan  alam  dan  kondisi geografis  ini  telah  mendorong  lahirnya  penelitian  dari  bangsa-bangsa lain. Dari sekian banyak penelitian terhadap flora dan fauna tersebut  yang  paling  terkenal  diantaranya  adalah  peneliti  Alfred Russel  Wallace yang membagi Indonesia dalam dua wilayah yang berbeda  berdasarkan  ciri  khusus  baik  fauna  maupun  floranya. Pembagian  itu  adalah  Paparan  Sahul  di  sebelah  timur,  Paparan Sunda di sebelah barat. Zona di antara paparan tersebut kemudian dikenal sebagai wilayah Wallacea yang merupakan  pembatas  fauna yang membentang  dari  Selat  Lombok hingga  Selat   Makassar   ke  arah  utara.   Fauna-fauna yang  berada di  sebelah  barat  garis  pembatas itu  disebut  dengan   Indo-Malayan  region .  Di sebelah timur disebut dengan  Australia Malayan  region .  Garis  itulah  yang  kemudian kita kenal dengan Garis Wallacea.

Sumber : Buku siswa kelas X









Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More