Blogroll

Akrab Senada, adalah Aktif dan rajin belajar sejarah nasional dan dunia. merupakan kumpulan pemikiran, program, dan materi pelajaran dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar Sejarah khususnya tingkat SMA.

Kamis, 19 Juni 2014

Mengenal manusia purba

Mengenal Manusia Purba


     Mengamati lingkungan

Pernahkah kamu  mendengar  tentang  Situs  Manusia  Purba Sangiran?  Kini  Situs  Manusia Purba  Sangiran  telah  ditetapkan oleh  UNESCO  sebagai  warisan budaya  dunia,  tentu  ini  sangat membanggakan bangsa Indonesia.
Pengakuan tersebut tentu didasari berbagai  pertimbangan  yang kompleks.  Satu  di  antaranya karena  di  wilayah  tersebut tersimpan  ribuan  peninggalan manusia purba yang menunjukkan proses  kehidupan  manusia  dari masa lalu. Sangiran telah menjadi sentra kehidupan manusia purba.
Berbagai penelitian dari para ahli juga dilakukan di sekitar Sangiran. .Beberapa temuan fosil di Sangiran telah mendorong para ahli untuk    terus melakukan penelitian termasuk di luar Sangiran. Dari Sangiran kita mengenal beberapa jenis manusia purba di Indonesia. Setelah ditetapkan sebagai warisan dunia, Situs Manusia Purba  Sangiran  dikembangkan  sebagai  pusat  penelitian  dalam
negeri  dan  luar  negeri,  serta  sebagai  tempat  wisata.  Selain  itu Sangiran juga memberi manfaat kepada masyarakat di sekitarnya, karena pariwisata di daerah tersebut.

Untuk memahami jenis dan ciri-ciri manusia purba di Indonesia mari kita telaah bacaan berikut ini.

      Memahami Teks

Peninggalan manusia purba untuk sementara ini yang paling banyak ditemukan berada di Pulau Jawa. Meskipun di daerah lain tentu  juga  ada,  tetapi  para  peneliti  belum  berhasil  menemukan tinggalan  tersebut  atau  masih  sedikit  yang  berhasil  ditemukan, misalnya  di  Flores.  Di  bawah  ini  akan  dipaparkan  beberapa penemuan penting fosil manusia di beberapa tempat.

1.   Sangiran
Perjalanan kisah perkembangan manusia di dunia tidak dapat kita  lepaskan  dari  keberadaan  bentangan  luas  perbukitan tandus yang  berada  diperbatasan  Kabupaten  Sragen  dan  Kabupaten Karanganyar.  Lahan  itu  dikenal  dengan  nama  Situs  Sangiran.  Di dalam  buku  Harry  Widianto  dan  Truman  Simanjuntak,      Sangiran Menjawab  Dunia   diterangkan  bahwa  Sangiran  merupakan sebuah  kompleks  situs  manusia  purba  dari  Kala  Pleistosen  yang paling lengkap dan  paling  penting di Indonesia, dan bahkan di Asia.

Lokasi  tersebut  merupakan  pusat  perkembangan  manusia  dunia,  yang  memberikan  petunjuk  tentang  keberadaan manusia  sejak  150.000  tahun  yang  lalu.  Situs Sangiran  itu  mempunyai  luas  delapan  kilometer pada arah utara-selatan dan tujuh kilometer arah timur-barat.  Situs  Sangiran  merupakan  suatu kubah  raksasa  yang  berupa  cekungan  besar di  pusat  kubah  akibat  adanya  erosi  di  bagian puncaknya.  Kubah  raksasa  itu  diwarnai  dengan  perbukitan yang bergelombang. Kondisi deformasi geologis itu menyebabkan tersingkapnya berbagai lapisan  batuan  yang  mengandung  fosil-fosil manusia  purba  dan  binatang,  termasuk  artefak. Berdasarkan  materi  tanahnya,  Situs  Sangiran berupa endapan lempung hitam dan pasir fluvio-volkanik,    tanahnya  tidak  subur  dan  terkesan gersang pada musim kemarau.

Sangiran  pertama  kali  ditemukan  oleh  P.E.C.  Schemulling tahun 1864, dengan laporan penemuan fosil vertebrata dari Kalioso, bagian  dari  wilayah  Sangiran.  Semenjak  dilaporkan  Schemulling situs  itu  seolah-olah terlupakan  dalam waktu yang  lama.  Eugene Dubois  juga  pernah  datang  ke  Sangiran,  akan  tetapi  ia  kurang tertarik  dengan  temuan-temuan di wilayah Sangiran.  Pada 1934, G.H.R    von    Koenigswald  menemukan  artefak  litik  di  wilayah Ngebung yang terletak sekitar dua km di barat laut kubah Sangiran. Artefak litik itulah yang kemudian menjadi temuan penting bagi Situs Sangiran.  Semenjak  penemuan  von  Koenigswald,  Situs  Sangiran menjadi  sangat  terkenal  berkaitan  dengan  penemuan-penemuan fosil  Homo erectus  secara sporadis dan berkesinambungan.  Homo erectus   adalah  takson  paling  penting  dalam  sejarah  manusia, sebelum  masuk  pada  tahapan  manusia   Homo  sapiens ,  manusia modern.

Situs  Sangiran  tidak  hanya  memberikan  gambaran  tentang evolusi fisik manusia saja, akan tetapi juga memberikan gambaran nyata  tentang  evolusi  budaya,  binatang,  dan  juga  lingkungan. Beberapa fosil yang ditemukan dalam seri geologis-stratigrafis yang diendapkan tanpa  terputus  selama  lebih   dari   dua   juta   tahun, menunjukan  tentang  hal  itu.  Situs  Sangiran  telah  diakui  sebagai salah satu pusat evolusi manusia di dunia. Situs itu ditetapkan secara resmi sebagai  Warisan  Dunia  pada  1996,  yang  tercantum  dalam nomor 593 Daftar Warisan Dunia ( World Heritage List ) UNESCO.

Perhatikan  baik-baik  gambar  fosil manusia purba di samping, fosil  itu juga disebut sebagai  Sangiran  17  sesuai  dengan  nomor  seri penemuannya.  Fosil  itu  merupakan  fosil   Homo erectus  yang terbaik di Sangiran. Ia ditemukan di endapan  pasir  fluvio-volkanik  di  Pucang,  bagian wilayah  Sangiran.  Fosil  itu  merupakan  dua  di antara  Homo erectus  di dunia yang masih lengkap dengan mukanya. Satu ditemukan di Sangiran dan .
satu lagi di Afrika.

 2.     Trinil, Ngawi, Jawa Timur
Trinil adalah sebuah desa di pinggiran Bengawan Solo, masuk wilayah administrasi   Kabupaten  Ngawi,  Jawa  Timur. Tinggalan purbakala telah lebih dulu ditemukan di daerah ini  jauh  sebelum von  Koenigswald  menemukan  Sangiran  pada  1934.  Ekskavasi yang  dilakukan    oleh    Eugene  Dubois  di  Trinil  telah  membawa penemuan    sisa-sisa    manusia  purba  yang  sangat  berharga  bagi dunia  pengetahuan.  Penggalian  Dubois  dilakukan  pada  endapan alluvial Bengawan Solo. Dari lapisan ini ditemukan atap tengkorak Pithecanthropus erectus , dan beberapa buah tulang paha (utuh dan fragmen) yang menunjukkan pemiliknya telah berjalan tegak.
Tengkorak  Pithecanthropus erectus  dari Trinil sangat  pendek  tetapi  memanjang  ke  belakang. Volume otaknya sekitar 900 cc, di  antara otak kera (600 cc) dan otak manusia  modern  (1.200-1.400 cc). Tulang kening sangat menonjol dan di bagian belakang mata, terdapat penyempitan yang sangat jelas, menandakan otak yang belum berkembang. Pada bagian  belakang kepala terlihat bentuk yang meruncing  yang  diduga  pemiliknya  merupakan perempuan.  Berdasarkan  kaburnya  sambungan perekatan antar  tulang kepala,  ditafsirkan inividu ini  telah  mencapai  usia  dewasa.  Selain  tempat-tempat di atas, peninggalan manusia purba tipe ini juga ditemukan di Perning, Mojokerto, Jawa Timur; Ngandong, Blora, Jawa  Tengah;  Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah.
Berdasarkan  beberapa  penelitian  yang  dilakukan  oleh  para
ahli,  dapatlah direkonstruksi   beberapa  jenis  manusia purba yang
pernah hidup di zaman praaksara.

1.  Jenis Meganthropus
Jenis manusia purba ini terutama berdasarkan penelitian von  Koenigswald  di  Sangiran  tahun  1936  dan  1941  yang menemukan fosil rahang manusia yang berukuran besar. Dari hasil  rekonstruksi  ini  kemudian  para  ahli  menamakan  jenis manusia  ini  dengan  sebutan   Meganthropus  paleojavanicus , artinya  manusia  raksasa  dari  Jawa.  Jenis  manusia  purba
ini  memiliki  ciri  rahang  yang  kuat  dan  badannya  tegap. Diperkirakan  makanan  jenis  manusia  ini  adalah  tumbuh-tumbuhan.  Masa  hidupnya  diperkirakan  pada  zaman Pleistosen Awal.

2.  Jenis Pithecanthropus
Jenis  manusia  ini  didasarkan  pada  penelitian  Eugene Dubois tahun 1890 di dekat Trinil, sebuah desa di pinggiran Bengawan  Solo,  di  wilayah  Ngawi.  Setelah  direkonstruksi terbentuk  kerangka  manusia,  tetapi  masih terlihat  tanda-tanda  kera.  Oleh  karena  itu jenis ini dinamakan  Pithecanthropus erectus , artinya   manusia kera  yang  berjalan tegak. Jenis  ini  juga  ditemukan  di  Mojokerto, sehingga  disebut         Pithecanthropus  mojokertensis .  Jenis  manusia  purba    yang  juga terkenal sebagai rumpun  Homo erectus  ini  paling  banyak  ditemukan  di  Indonesia.    Diperkirakan  jenis manusia purba ini  hidup     dan  berkembang  sekitar  zaman  Pleistosen
Tengah.

 3.  Jenis Homo
Fosil jenis Homo ini pertama diteliti oleh von Reitschoten di Wajak. Penelitian dilanjutkan oleh Eugene Dubois bersama kawan-kawan  dan  menyimpulkan  sebagai  jenis  Homo. Ciri-ciri  jenis  manusia  Homo  ini  muka  lebar,  hidung  dan mulutnya  menonjol.  Dahi  juga  masih  menonjol,  sekalipun tidak  semenonjol  jenis  Pithecanthropus.  Bentuk fisiknya tidak jauh berbeda dengan manusia sekarang. Hidup  dan perkembangan  jenis manusia ini  sekitar
40.000  –  25.000  tahun  yang  lalu.  Tempat-tempat penyebarannya tidak hanya di Kepulauan Indonesia tetapi juga di Filipina dan Cina Selatan.

 Uraian mengenai jenis-jenis manusia ini selengkapnya dapat juga dibaca pada buku  Harry Widianto dan Truman Simanjuntak, 
Sangiran Menjawab Dunia

Homo  sapiens   artinya  ‘manusia  sempurna’ baik dari  segi  fisik,  volume  otak maupun  postur  badannya yang  secara  umum  tidak  jauh  berbeda  dengan  manusia modern.  Kadang-kadang   Homo  sapiens   juga  diartikan
dengan ‘manusia bijak’  karena telah lebih  maju  dalam berfikir dan menyiasati tantangan alam. Bagaimanakah mereka  muncul  ke  bumi  pertama  kali  dan  kemudian menyebar  dengan  cepat ke  berbagai  penjuru  dunia hingga saat ini?  Para ahli paleoanthropologi dapat  melukiskan  perbedaan  morfologis  antara   Homo sapiens   dengan  pendahulunya,   Homo  erectus .
Rangka   Homo  sapiens   kurang  kekar  posturnya  dibandingkan   Homo  erectus .  Salah  satu  alasannya  karena tulang  belulangnya  tidak  setebal  dan  sekompak        Homo erectus.




Hal  ini  mengindikasikan  bahwa  secara  fisik       Homo sapiens  jauh lebih lemah dibanding sang pendahulu tersebut. Di  lain  pihak,  ciri-ciri  morfologis  maupun  biometriks   Homo sapiens  menunjukkan karakter yang lebih berevolusi dan lebih modern dibandingkan dengan  Homo erectus . Sebagai misal, karakter evolutif yang paling signifikan adalah bertambahnya kapasitas otak.  Homo sapiens  mempunyai kapasitas otak yang jauh lebih besar (rata-rata 1.400 cc), dengan atap tengkorak yang jauh lebih bundar dan lebih tinggi dibandingkan dengan Homo  erectus   yang  mempunyai  tengkorak  panjang  dan rendah, dengan kapasitas otak 1.000 cc.

Segi-segi  morfologis  dan  tingkatan  kepurbaannya menunjukkan ada perbedaan yang sangat nyata antara kedua spesies dalam genus Homo tersebut.  Homo sapiens  akhirnya tampil sebagai spesies yang sangat tangguh dalam beradaptasi dengan lingkungannya, dan dengan cepat menghuni berbagai permukaan dunia ini.



Berdasarkan  bukti-bukti  penemuan,  sejauh  ini  manusia modern awal di Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara paling tidak telah hadir sejak 45.000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, kehidupan  manusia  modern ini  dapat  dikelompokkan  dalam  tiga tahap, yaitu (i) kehidupan manusia modern awal yang kehadirannya hingga  akhir  zaman  es  (sekitar  12.000  tahun  lalu),  kemudian dilanjutkan  oleh  (ii)  kehidupan  manusia  modern  yang  lebih belakangan,  dan  berdasarkan  karakter  fisiknya  dikenal  sebagai ras Austromelanesoid. (iii) mulai di sekitar 4000 tahun lalu muncul penghuni  baru  di  Kepulauan  Indonesia  yang  dikenal  sebagai penutur bahasa Austronesia. Berdasarkan karakter fisiknya, makhluk manusia ini tergolong dalam ras Mongolid. Ras inilah yang kemudian berkembang hingga menjadi bangsa Indonesia sekarang.

 Beberapa spesimen (penggolongan) manusia   Homo sapiens  dapat dikelompokkan sebagai berikut,
a.  Manusia Wajak
Manusia  Wajak  ( Homo    wajakensis )  merupakan  satu-satunya  temuan  di  Indonesia  yang  untuk  sementara  dapat disejajarkan  perkembangannya  dengan  manusia  modern awal dari  akhir  Kala  Pleistosen. Pada  tahun  1889,  manusia Wajak ditemukan oleh B.D. van Rietschoten di sebuah ceruk di lereng pegunungan karst di barat laut Campurdarat, dekat Tulungagung, Jawa Timur.

b.  Manusia Liang Bua
Pengumuman  tentang  penemuan  manusia      Homo floresiensis   tahun  2004  menggemparkan  dunia  ilmu pengetahuan.  Sisa-sisa  manusia  ditemukan  di  sebuah  gua Liang Bua oleh tim peneliti gabungan Indonesia dan Australia. Sebuah  gua  permukiman  prasejarah  di  Flores.  Liang  Bua bila  diartikan  secara  harfiah  merupakan  sebuah  gua  yang dingin.  Sebuah  gua  yang  sangat  lebar  dan  tinggi  dengan permukaan tanah yang datar, merupakan tempat bermukim yang nyaman bagi manusia pada masa praaksara. Hal itu bisa dilihat dari kondisi lingkungan sekitar gua yang sangat indah, yang berada di sekitar bukit dengan kondisi tanah yang datar di depannya. Liang Bua merupakan sebuah temuan manusia modern  awal  dari  akhir  masa  Pleistosen  di  Indonesia  yang menakjubkan  yang  diharapkan  dapat  menyibak  asal  usul manusia di Kepulauan Indonesia.


Manusia  Liang  Bua ditemukan  oleh  Peter  Brown  dan Mike J. Morwood pada bulan September 2003 lalu. Temuan itu dianggap sebagai penemuan spesies baru yang kemudian diberi  nama   Homo  floresiensis ,  sesuai  dengan  tempat ditemukannya fosil manusia Liang Bua.


Sumber :



0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More