Blogroll

Akrab Senada, adalah Aktif dan rajin belajar sejarah nasional dan dunia. merupakan kumpulan pemikiran, program, dan materi pelajaran dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar Sejarah khususnya tingkat SMA.

Kamis, 19 Juni 2014

Terbentuknya Kepulauan Indonesia

Terbentuknya Kepulauan Indonesia

     Mengamati lingkungan

Bumi  kita  yang  terhampar  luas  ini  diciptakan  Tuhan  Yang Maha Pencipta untuk kehidupan dan kepentingan hidup manusia. Di bumi ini hidup berbagai flora dan fauna serta tempat bersemainya manusia dengan keturunannya. Di bumi ini kita bisa menyaksikan keindahan  alam,  kita  bisa  beraktivitas  dan  berikhtiar  memenuhi kebutuhan hidup kita. Namun harus dipahami bahwa bumi kita juga sering menimbulkan bencana.  Sebagai contoh munculnya aktivitas lempeng  bumi  yang  kemudian  melahirkan  gempa  bumi  baik tektonis maupun vulkanis, bahkan sampai  menimbulkan tsunami.
Sebagai  contoh  tentu  kamu  masih  ingat  bagaimana  gempa  dan tsunami yang terjadi di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, di Papua dan  beberapa  di  daerah  lain,  termasuk  beberapa  gunung berapi meletus.  Bencana  tersebut  telah  mengakibatkan  ribuan  nyawa hilang dan harta benda melayang.

Fenomena  alam  yang  terjadi  itu  merupakan  bagian  tak terpisahkan dari aktivitas panjang bumi kita sejak proses terjadinya alam  semesta  ratusan bahkan ribuan juta tahun yang lalu.  Proses tersebut  secara  geologis  mengalami  beberapa  tahapan  atau pembabakan  waktu.  Berikut  ini  kita  mencoba  menelaah  tentang pembabakan waktu alam secara geologis dan bagaimana Kepulauan Indonesia terbentuk.


     Memahami Teks

Ada  banyak  teori  dan  penjelasan  tentang  penciptaan bumi,  mulai  dari  mitos  sampai  kepada  penjelasan  agama  dan ilmu  pengetahuan.  Kali  ini  kamu  belajar  sejarah  sebagai  cabang keilmuan, pembahasannya adalah pendekatan ilmu pengetahuan, yakni  asumsi-asumsi  ilmiah,  yang  kiranya  juga  tidak  perlu bertentangan  dengan  ajaran  agama.  Salah  satu  di  antara  teori ilmiah tentang terbentuknya bumi adalah Teori  “Dentuman Besar” ( Big  Bang ), seperti dikemukaan oleh  sejumlah  ilmuwan  dan yang mutakhir seperti ilmuwan besar  Inggris,  Stephen  Hawking.  
Teori ini menyatakan bahwa alam semesta mulanya berbentuk gumpalan gas yang mengisi seluruh ruang jagad raya. Jika digunakan teleskop besar  Mount  Wilson  untuk  mengamatinya  akan  terlihat  ruang jagad raya itu luasnya mencapai radius 500.000.000 tahun cahaya. Gumpalan gas itu suatu saat meledak dengan satu dentuman yang amat dahsyat.  Setelah  itu,  materi yang terdapat di  alam  semesta mulai berdesakan satu sama lain dalam kondisi suhu dan kepadatan yang  sangat tinggi, sehingga hanya tersisa energi  berupa proton, neutron dan elektron, yang bertebaran ke seluruh arah. Ledakan  dahsyat  itu  menimbulkan  gelembung-gelembung alam semesta yang menyebar dan menggembung ke seluruh penjuru, sehingga  membentuk  galaksi-galaksi  bintang-bintang,  matahari, planet-planet, bumi, bulan dan meteorit. 
Bumi kita hanyalah salah satu titik kecil saja di antara tata surya yang mengisi jagad semesta. Di samping itu banyak planet lain termasuk bintang-bintang yang menghiasi langit yang tak terhitung jumlahnya. Boleh jadi ukurannya jauh  lebih  besar  dari  planet  bumi.  Bintang-bintang  berkumpul dalam suatu gugusan, meskipun antarbintang berjauhan letaknya di angkasa.  Ada juga ilmuwan astronomi yang mengibaratkan galaksi bintang-bintang  itu  tak ubahnya seperti sekumpulan  anak ayam, yang tak mungkin dipisahkan dari induknya. Jadi di mana ada anak ayam di situ pasti ada induknya. Seperti halnya dengan anak-anak ayam, bintang-bintang di angkasa tak mungkin gemerlap sendirian tanpa  disandingi  dengan  bintang  lainnya.  Sistem  alam  semesta dengan semua  benda  langit  sudah tersusun  secara  menakjubkan dan masing-masing beredar secara teratur dan rapi pada sumbunya masing-masing.
Selanjutnya proses evolusi alam semesta itu memakan waktu kosmologis  yang  sangat  lama  sampai  beribu-ribu  juta  tahun. Terjadinya evolusi bumi sampai adanya kehidupan memakan waktu yang sangat panjang. Ilmu palaentologi membaginya dalam enam tahap waktu geologis. Masing-masing ditandai oleh peristiwa alam yang  menonjol,  seperti  munculnya  gunung-gunung,  benua  dan makhluk hidup yang paling sederhana. Proses evolusi bumi dibagi menjadi beberapa periode sebagai berikut.

1 .  Azoicum  (Yunani:  a   =  tidak;   zoon   = hewan),    yaitu  zaman sebelum adanya kehidupan. Pada saat ini bumi baru terbentuk dengan  suhu  yang  relatif  tinggi.  Waktunya  lebih  dari  satu milyar tahun lalu.

2.  Palaezoicum , yaitu zaman purba tertua. Pada masa ini sudah meninggalkan  fosil  flora  dan  fauna.  Berlangsung  kira-kira 350.000.000 tahun.

3.   Mesozoicum , yaitu zaman purba tengah. Pada masa ini hewan mamalia  (menyusui),  hewan amfibi,  burung dan  tumbuhan berbunga mulai ada. Lamanya kira-kira 140.000.000 tahun.

4.   Neozoicum ,  yaitu  zaman  purba  baru,  yang  dimulai  sejak 60.000.000  tahun  yang  lalu.  Zaman  ini  dapat  dibagi  lagi menjadi  dua  tahap  ( Tersier   dan   Quarter ),  zaman  es  mulai menyusut dan makhluk-makhluk tingkat tinggi dan manusia mulai hidup.

Merujuk  pada  tarikh  bumi  di  atas,  sejarah  di  Kepulauan Indonesia terbentuk melalui proses yang panjang dan rumit. Sebelum bumi didiami manusia, kepulauan  ini  hanya  diisi  tumbuhan flora dan fauna yang masih sangat kecil dan sederhana. Alam juga harus menjalani evolusi terus menerus untuk menemukan keseimbangan agar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi alam dan iklim,  sehingga  makhluk  hidup  dapat  bertahan  dan berkembang biak mengikuti seleksi alam.

Gugusan  kepulauan  ataupun  wilayah  maritim  seperti  yang kita temukan  sekarang  ini terletak di  antara dua  benua  dan  dua samudera, antara Benua Asia di utara dan Australia di selatan, antara Samudera Hindia di barat  dan  Samudera Pasifik di belahan  timur. Faktor letak ini memainkan peran strategis sejak zaman kuno sampai sekarang.  Namun  sebelum  itu  marilah  kita  sebentar  berkenalan dengan kondisi alamnya, terutama unsur-unsur geologi atau unsur-unsur  geodinamika  yang  sangat  berperan  dalam  pembentukan Kepulauan Indonesia.

Menurut  para  ahli  bumi,  posisi  pulau-pulau  di  Kepulauan Indonesia terletak di atas tungku api yang bersumber dari magma dalam perut bumi. Inti perut bumi tersebut berupa lava cair bersuhu sangat tinggi. Makin ke dalam tekanan dan suhunya semakin tinggi. Pada suhu yang tinggi itu material-material akan meleleh sehingga material di bagian dalam bumi selalu berbentuk cairan panas. Suhu tinggi ini  terus menerus bergejolak  mempertahankan  cairan  sejak jutaan  tahun  lalu.  Ketika ada  celah lubang keluar, cairan tersebut keluar berbentuk  lava  cair.  Ketika  lava mencapai  permukaan  bumi,  suhu menjadi  lebih  dingin  dari  ribuan derajat  menjadi  hanya  bersuhu normal  sekitar  30  derajat.  Pada suhu ini cairan lava akan membeku membentuk batuan beku atau kerak. Keberadaan  kerak  benua  (daratan) dan kerak samudera selalu bergerak secara  dinamis  akibat  tekanan magma dari perut bumi. Pergerakan unsur-unsur geodinamika ini dikenal sebagai kegiatan tektonis.

Sebagian wilayah di Kepulauan Indonesia  merupakan  titik  temu  di antara tiga lempeng, yaitu lempeng Indo-Australia  di  selatan,  Lempeng Eurasia di utara dan Lempeng Pasifik di  timur.  Pergerakan  lempeng-lempeng  tersebut  dapat  berupa subduksi  (pergerakan  lempeng  ke  atas),  obduksi  (pergerakan lempeng  ke  bawah)  dan  kolisi  (tumbukan  lempeng).  Pergerakan dapat berupa pemisahan atau  divergensi  (tabrakan) lempeng-lempeng.  Pergerakan  mendatar  berupa  pergeseran  lempeng-lempeng  tersebut  masih  terus  berlangsung  hingga  sekarang.
Perbenturan  lempeng-lempeng  tersebut  menimbulkan  dampak yang berbeda-beda. Namun semuanya telah menyebabkan wilayah Kepulauan  Indonesia  secara  tektonis  merupakan  wilayah  yang sangat aktif dan labil hingga rawan gempa sepanjang waktu. Pada  masa   Paleozoikum   (masa  kehidupan  tertua)  keadaan geografis Kepulauan Indonesia belum terbentuk seperti sekarang ini. Di kala itu wilayah ini masih merupakan bagian dari samudera yang sangat luas, meliputi  hampir seluruh bumi.  Pada  fase berikutnya, yaitu  pada  akhir  masa   Mesozoikum ,  sekitar  65  juta  tahun  lalu, kegiatan tektonis itu menjadi sangat aktif menggerakkan lempeng-
lempeng  Indo-Australia,  Eurasia  dan  Pasifik.  Kegiatan  ini  dikenal sebagai fase  tektonis ( orogenesa  laramy ), sehingga  menyebabkan daratan terpecah-pecah. Benua Eurasia menjadi pulau-pulau  yang terpisah  satu  dengan  lainnya. Sebagian  di  antaranya  bergerak  ke selatan  membentuk  pulau-pulau  Sumatra,  Jawa,  Kalimantan, Sulawesi serta pulau-pulau di Nusa Tenggara Barat dan Kepulauan Banda. Hal yang sama juga terjadi pada Benua Australia. Sebagian pecahannya  bergerak  ke  utara  membentuk  pulau-pulau  Timor, Kepulauan Nusa Tenggara Timur  dan sebagian Maluku  Tenggara. Pergerakan pulau-pulau hasil pemisahan dari kedua benua tersebut telah  mengakibatkan  wilayah  pertemuan  keduanya  sangat  labil. Kegiatan  tektonis  yang  sangat  aktif  dan  kuat  telah  membentuk rangkaian  Kepulauan Indonesia pada masa  Tersier  sekitar 65 juta tahun lalu.

Sebagian besar daratan Sumatra, Kalimantan dan Jawa telah tenggelam  menjadi laut  dangkal  sebagai  akibat terjadinya  proses kenaikan permukaan laut atau  transgresi . Sulawesi pada masa  itu sudah  mulai  terbentuk,  sementara  Papua  sudah  mulai  bergeser ke utara, meski masih didominasi oleh cekungan sedimentasi laut dangkal  berupa  paparan  dengan  terbentuknya  endapan  batu gamping.  Pada  kala   Pliosen   sekitar  lima  juta  tahun  lalu,  terjadi pergerakan  tektonis  yang  sangat  kuat,  yang  mengakibatkan terjadinya  proses  pengangkatan  permukaan  bumi  dan  kegiatan vulkanis. Ini pada gilirannya menimbulkan tumbuhnya (atau mungkin lebih  tepat  terbentuk)    rangkaian  perbukitan  struktural  seperti perbukitan besar (gunung), dan perbukitan lipatan serta rangkaian gunung  api  aktif  sepanjang  gugusan  perbukitan  itu.  Kegiatan tektonis dan vulkanis terus aktif hingga awal masa  Pleistosen , yang dikenal sebagai kegiatan tektonis  Plio-Pleistosen . Kegiatan tektonis ini berlangsung di seluruh Kepulauan Indonesia.
Gunung api aktif dan rangkaian perbukitan struktural tersebar di sepanjang bagian barat Pulau Sumatra, berlanjut ke  sepanjang Pulau Jawa  ke arah timur hingga Kepulauan Nusa  Tenggara serta Kepulauan  Banda.  Kemudian  terus  membentang  sepanjang Sulawesi Selatan  dan Utara.  Pembentukan  daratan  yang  semakin luas itu  telah  membentuk  Kepulauan  Indonesia  pada  kedudukan pulau-pulau seperti sekarang ini. Hal itu telah berlangsung sejak kala Pliosen  hingga awal  Pleistosen  (1,8 juta tahun lalu). Jadi pulau-pulau di  kawasan Kepulauan  Indonesia  ini masih  terus  bergerak  secara dinamis, sehingga tidak heran jika masih sering terjadi gempa, baik vulkanis maupun tektonis.

Letak Kepulauan Indonesia yang berada pada deretan gunung api membuatnya menjadi daerah dengan tingkat keanekaragaman flora  dan  fauna  yang  sangat  tinggi.  Kekayaan  alam  dan  kondisi geografis  ini  telah  mendorong  lahirnya  penelitian  dari  bangsa-bangsa lain. Dari sekian banyak penelitian terhadap flora dan fauna tersebut  yang  paling  terkenal  diantaranya  adalah  peneliti  Alfred Russel  Wallace yang membagi Indonesia dalam dua wilayah yang berbeda  berdasarkan  ciri  khusus  baik  fauna  maupun  floranya. Pembagian  itu  adalah  Paparan  Sahul  di  sebelah  timur,  Paparan Sunda di sebelah barat. Zona di antara paparan tersebut kemudian dikenal sebagai wilayah Wallacea yang merupakan  pembatas  fauna yang membentang  dari  Selat  Lombok hingga  Selat   Makassar   ke  arah  utara.   Fauna-fauna yang  berada di  sebelah  barat  garis  pembatas itu  disebut  dengan   Indo-Malayan  region .  Di sebelah timur disebut dengan  Australia Malayan  region .  Garis  itulah  yang  kemudian kita kenal dengan Garis Wallacea.

Sumber : Buku siswa kelas X









0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More