Blogroll

Akrab Senada, adalah Aktif dan rajin belajar sejarah nasional dan dunia. merupakan kumpulan pemikiran, program, dan materi pelajaran dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar Sejarah khususnya tingkat SMA.

Kamis, 19 Juni 2014

Perkembangan teknologi

Perkembangan Teknologi


     Mengamati Lingkungan

Coba amati gambar di samping. Gambar apa dan  untuk apa  kira-kira?  Gambar itu  merupakan gambar peralatan rumah tangga yang sudah sangat lama  dikenal di lingkungan  ibu  rumah  tangga  di Indonesia, apalagi di Jawa. Yang jelas peralatan itu terbuat dari batu yang merupakan warisan nenek moyang. Peralatan dari batu ini  sampai sekarang masih digunakan oleh masyarakat kita.
Berikut  ini  kita  akan  membahas  tentang teknologi  bebatuan  yang  telah  dikembangkan  sejak kehidupan manusia purba.

     Memahami  Teks

  Perlu  kamu  ketahui  bahwa  sekalipun  belum  mengenal tulisan  manusia  purba  sudah  mengembangkan  kebudayaan  dan teknologi.  Teknologi  waktu  itu  bermula  dari  teknologi  bebatuan yang digunakan sebagai  alat untuk memenuhi  kebutuhan. Dalam praktiknya  peralatan  atau  teknologi  bebatuan  tersebut  dapat berfungsi serba guna. Pada tahap paling awal alat yang digunakan masih bersifat kebetulan dan seadanya serta bersifat  trial and eror.  Mula-mula  mereka  hanya menggunakan  benda-benda   dari  alam terutama  batu. Teknologi  bebatuan pada zaman  ini  berkembang dalam  kurun  waktu  yang  begitu  panjang.  Oleh  karena  itu,  para ahli kemudian membagi kebudayaan zaman batu di era praaksara ini  menjadi  beberapa  zaman  atau  tahap  perkembangan.  Dalam buku  R.  Soekmono,   Pengantar  Sejarah  Kebudayaan  Indonesia  I, dijelaskan bahwa  kebudayaan  zaman batu ini dibagi menjadi tiga yaitu,  Paleolitikum, Mesolitikum dan Neolitikum.

 1.  Antara Batu dan Tulang

Peralatan pertama yang digunakan oleh manusia purba adalah alat-alat  dari  batu yang seadanya dan juga  dari  tulang. Peralatan ini  berkembang  pada  zaman   paleolitikum   atau  zaman  batu  tua. Zaman batu tua ini bertepatan dengan zaman  neozoikum  terutama pada  akhir  zaman   Tersier   dan  awal  zaman   Quartair .  Zaman  ini berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. Zaman ini merupakan zaman  yang  sangat  penting  karena  terkait  dengan  munculnya kehidupan baru, yakni munculnya jenis manusia purba. Zaman ini dikatakan  zaman  batu tua  karena  hasil  kebudayaan  terbuat  dari batu yang relatif masih  sederhana dan kasar. Kebudayaan zaman Paleolitikum   ini  secara  umum  ini  terbagi  menjadi  Kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong.

a.  Kebudayaan Pacitan
     Kebudayaan  ini  berkembang  di  daerah  Pacitan,  Jawa Timur.  Beberapa  alat  dari  batu  ditemukan  di  daerah  ini. Seorang  ahli,  von  Koenigwald  dalam  penelitiannya  pada tahun  1935  telah  menemukan  beberapa  hasil  teknologi bebatuan  atau  alat-alat  dari  batu  di  daerah  Punung.  Alat batu  itu  masih  kasar,  dan  bentuk  ujungnya  agak  runcing, tergantung kegunaannya. Alat batu ini sering disebut dengan kapak genggam atau kapak perimbas. Kapak ini digunakan untuk menusuk binatang atau menggali tanah saat mencari umbi-umbian.  Di  samping  kapak  perimbas,  di  Pacitan  juga ditemukan  alat batu yang disebut  dengan   chopper   sebagai alat penetak. Di Pacitan juga ditemukan alat-alat serpih.

b. Kebudayaan Ngandong
     Kebudayaan  Ngandong  berkembang  di  daerah Ngandong  dan  juga  Sidorejo,  dekat    Ngawi.  Di  daerah  ini banyak ditemukan alat-alat dari batu dan juga alat-alat dari tulang. Alat-alat dari tulang ini berasal dari tulang binatang dan  tanduk  rusa  yang  diperkirakan  digunakan  sebagai penusuk  atau  belati.  Selain  itu,  ditemukan  juga  alat-alat seperti tombak yang bergerigi.  Di Sangiran juga ditemukan  alat-alat dari  batu,  bentuknya  indah  seperti  kalsedon .  Alat-alat ini sering disebut dengan  flakke.

     Sebaran  artefak  dan  peralatan  paleolitik  cukup  luas sejak dari  daerah-daerah  di  Sumatra, Kalimantan,  Sulawesi, Bali,   Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Halmahera.


2.  Antara Pantai dan Gua

Zaman  batu  terus  berkembang  memasuki  zaman  batu madya  atau  batu  tengah  yang  dikenal zaman   mesolitikum.   Hasil kebudayaan batu madya ini sudah lebih maju apabila dibandingkan hasil kebudayaan zaman  paleolitikum . Sekalipun demikian bentuk dan  hasil-hasil  kebudayaan  zaman   paleolitikum   (batu  tua)  tidak serta  merta  punah  tetapi  mengalami  penyempurnaan.  Bentuk flakke  dan  alat-alat dari tulang  terus  mengalami perkembangan.  Secara  garis  besar  kebudayaan mesolitikum   ini  terbagi  menjadi  dua  kelompok besar  yang  ditandai  lingkungan  tempat  tinggal, yakni di pantai dan di gua.

a.  Kebudayaan Kjokkenmoddinger.
         Kjokkenmoddinger  istilah dari bahasa Denmark,  kjokken  berarti dapur dan  modding  dapat diartikan sampah ( kjokkenmoddinger  = sampah dapur). Dalam kaitannya dengan budaya  manusia,       kjokkenmoddinger  merupakan tumpukan  timbunan kulit siput dan kerang yang menggunung di sepanjang pantai Sumatra Timur antara Langsa di Aceh sampai Medan. Dengan  kjokkenmoddinger   ini dapat memberi informasi bahwa manusia  purba  zaman   mesolitikum     umumnya bertempat tinggal di tepi pantai. Pada tahun 1925 Von Stein Callenfals melakukan penelitian di bukit kerang itu dan menemukan jenis kapak genggam ( chopper )  yang  berbeda  dari   chopper   yang  ada di  zaman   paleolitikum .  Kapak  genggam  yang ditemukan di bukit kerang di pantai Sumatra Timur ini diberi nama  pebble  atau lebih dikenal dengan Kapak  Sumatra.  Kapak  jenis   pebble   ini  terbuat dari  batu  kali  yang  pecah,  sisi  luarnya  dibiarkan begitu saja dan sisi bagian dalam dikerjakan sesuai dengan  keperluannya.  Di  samping  kapak  jenis pebble   juga  ditemukan  jenis  kapak  pendek  dan  jenis  batu  pipisan   (batu-batu  alat penggiling).  Di Jawa batu pipisan ini umumnya untuk menumbuk dan menghaluskan jamu.

b. Kebudayaan Abris Sous Roche 
   Kebudayaan       abris  sous  roche   merupakan  hasil kebudayaan  yang  ditemukan  di  gua-gua.  Hal  ini mengindikasikan  bahwa  manusia  purba  pendukung kebudayaan ini tinggal di gua-gua. Kebudayaan ini pertama kali dilakukan penelitian oleh Von Stein Callenfels di Gua Lawa dekat  Sampung,  Ponorogo.  Penelitian  dilakukan Untuk mengetahui lebih tahun 1928 sampai 1931. Beberapa hasil teknologi dalam tentang Kebudayaan bebatuan yang ditemukan misalnya ujung panah, Kjokkenmoddinger   dan flakke,   batu  penggilingan.  Juga  ditemukan  alat-alat  dari  tulang  dan  tanduk  rusa.  Kebudayaan  abris  sous  roche   ini  banyak  ditemukan  misalnya di  Besuki,  Bojonegoro,  juga  di  daerah  Sulawesi Selatan seperti di Lamoncong.



3.  Sebuah Revolusi

Perkembangan  zaman  batu  yang  dapat dikatakan  paling  penting  dalam  kehidupan manusia adalah zaman batu baru atau  neolitikum.  Pada zaman  neolitikum  yang juga dapat dikatakan sebagai zaman batu muda. Pada zaman ini telah terjadi  “revolusi  kebudayaan”,  yaitu  terjadinya    perubahan pola hidup manusia.  Pola hidup  food gathering  digantikan dengan pola  food producing. Hal ini seiring dengan terjadinya perubahan jenis pendukung kebudayaanya. Pada zaman  ini telah hidup  jenis   Homo  sapiens   sebagai  pendukung kebudayaan  zaman  batu  baru.  Mereka  mulai mengenal bercocok tanam dan beternak sebagai proses  untuk  menghasilkan  atau  memproduksi bahan  makanan.  Hidup  bermasyarakat  dengan bergotong  royong  mulai  dikembangkan.  Hasil kebudayaan yang terkenal   di  zaman   neolitikum  ini  secara  garis  besar  dibagi  menjadi  dua  tahap   perkembangan.

a.  Kebudayaan kapak persegi
         Nama  kapak  persegi  berasal  dari penyebutan  oleh  von  Heine  Gelderen. Penamaan  ini  dikaitkan  dengan  bentuk alat  tersebut. Kapak  persegi  ini  berbentuk persegi  panjang  dan  ada  juga  yang berbentuk  trapesium.  Ukuran  alat  ini  juga bermacam-macam.  Kapak  persegi  yang besar  sering  disebut  dengan   beliung   atau pacul   (cangkul),  bahkan  sudah  ada  yang diberi  tangkai  sehingga  persis  seperti cangkul  zaman sekarang.  Sementara yang berukuran  kecil    dinamakan   tarah   atau  tatah.  Penyebaran  alat-alat  ini  terutama  di Kepulauan  Indonesia  bagian  barat,  seperti Sumatra,  Jawa dan Bali. Diperkirakan sentra-sentra teknologi kapak persegi ini ada di Lahat (Palembang),  Bogor,  Sukabumi,  Tasikmalaya (Jawa  Barat), kemudian  Pacitan-Madiun,  dan di  Lereng  Gunung  Ijen  (Jawa  Timur).  Yang menarik, di Desa  Pasirkuda dekat Bogor juga ditemukan  batu  asahan.  Kapak  persegi  ini cocok sebagai alat pertanian.

b. Kebudayaan kapak lonjong 
   Nama  kapak  lonjong  ini  disesuaikan dengan  bentuk  penampang  alat  ini  yang  berbentuk  lonjong.  Bentuk  keseluruhan  alat ini  lonjong  seperti  bulat  telur.  Pada  ujung yang   lancip   ditempatkan  tangkai  dan  pada bagian ujung yang lain diasah sehingga tajam. Kapak  yang  ukuran  besar  sering  disebut walzenbeil  dan yang kecil dinamakan  kleinbeil.  Penyebaran jenis kapak lonjong ini terutama di Kepulauan Indonesia bagian timur, misalnya di daerah Papua, Seram, dan Minahasa. Pada  zaman   neolitikum,   di  samping berkembangnya  jenis  kapak  batu  juga ditemukan  barang-barang  perhiasan,  seperti gelang dari batu, juga alat-alat gerabah  atau tembikar.

Perlu  kamu  ketahui  bahwa  manusia purba waktu itu sudah memiliki pengetahuan tentang  kualitas  bebatuan  untuk  peralatan. Penemuan  dari  berbagai  situs  menunjukkan bahan yang paling sering dipergunakan adalah jenis batuan kersikan ( silicified stones ), seperti gamping  kersikan,  tufa  kersikan,  kalsedon, dan jasper.  Jenis-jenis  batuan ini  di samping  keras,  sifatnya yang  retas  dengan  pecahan  yang  cenderung  tajam  dan tipis,  sehingga memudahkan  pengerjaan.  Di beberapa  situs yang  mengandung  fosil-fosil  kayu,  seperti  di  Kali  Baksoka (Jawa  Timur)  dan Kali Ogan  (Sumatra  Selatan)  tampak  ada upaya  pemanfaatan  fosil  untuk  bahan  peralatan.  Pada saat  lingkungan  tidak  menyediakan  bahan  yang  baik,  ada kecenderungan untuk  memanfaatkan batuan  yang  tersedia di sekitar hunian, walaupun kualitasnya kurang baik. Contoh semacam  ini  dapat  diamati  pada  situs  Kedunggamping  di sebelah timur Pacitan, Cibaganjing di Cilacap, dan Kali Kering di Sumba yang pada umumnya menggunakan bahan andesit untuk peralatan. 

c.  Perkembangan zaman logam

     Mengakhiri  zaman  batu  di  masa  neolitikum  mulailah zaman  logam.  Sebagai  bentuk  masa  perundagian.  Zaman logam  di  Kepulauan  Indonesia  ini  agak  berbeda  bila dibandingkan  dengan  yang  ada  di  Eropa.  Di  Eropa  zaman logam  ini  mengalami  tiga  fase,  zaman  tembaga,  perunggu dan besi. Di  Kepulauan Indonesia hanya mengalami  zaman perunggu dan besi. Zaman perunggu  merupakan fase yang  sangat  penting dalam  sejarah.  Beberapa contoh  benda-benda kebudayaan perunggu itu antara lain: kapak corong, nekara,  moko,  berbagai barang  perhiasan. Beberapa    benda    hasil kebudayaan zaman logam ini  juga  terkait  dengan   praktik  keagamaan  misalnya nekara.


Sumber :

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More