Blogroll

Akrab Senada, adalah Aktif dan rajin belajar sejarah nasional dan dunia. merupakan kumpulan pemikiran, program, dan materi pelajaran dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar Sejarah khususnya tingkat SMA.

Sunday, April 14, 2013

Ruang Lingkup Sejarah



A.    RUANG LINGKUP SEJARAH

Para sejarawan memberikan pemahaman mengenai sejarah dalam beberapa pengertian, yaitu :

1.     Sejarah sebagai peristiwa,
Sejarah sebagai peristiwa berarti suatu kejadian dimasa lampau yang sudah terjadi dan sekali jadi, serta tidak bisa diulang. Peristiwa adalah kenyataan yang bersifat absolut dan objektif. Karena kejadian itu benar-benar ada dan terjadi, maka peristiwa itu dianggap sebagai kenyataan sejarah.
      Semua yang terjadi pada masa lalu merupakan peristiwa atau kenyataan sejarah. Kenyataan sejarah itu pada dasarnya objektif, artinya suatu kenyataan peristiwa yang memang  benar-benar terjadi. Peristiwa itu dapat kita ketahui melalui bukti-bukti yang dapat menjadi saksi terhadap peristiwa  itu.
      Peristiwa yang dipelajari dalam sejarah adalah peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan manusia baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang multidimensi artinya gambaran peristiwa manusia dapat dilihat dari berbagai aspek kehidupan.
      Dalam sejarah, peristiwa itu terjadi diantaranya karena adanya hubungan sebab akibat, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Internal disebabkan factor yang ada dalam peristiwa itu sendiri, misalnya lahirnya pergerakan nasional di Indonesia pada awal abad ke-20 disebabkan oleh lahirnya kaum terpelajar sebagai dampak dari politik pendidikan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda melalui politik etis. Sedangkan secara eksternalnya pergerakan itu lahir disebabkan oleh kemenangan Jepang terhadap Rusia 1904 – 1905.
      Peristiwa sejarah merupakan suatu perubahan kehidupan. Sejarah pada hakekatnya adalah sebuah perubahan. Sejarah mempelajari aktifitas manusia dalam konteks waktu. Dengan melihat aspek waktu akan terlihat perubahan dalam kehidupan manusia. Perubahan kehidupan tersebut berupa aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya.
      Peristiwa sejarah terjadi dalam ruang yang beragam. Mulai dari yang lebih kecil sampai yang lebih luas. Dalam ruang yang kecil peristiwa sejarah dapat terjadi pada sebuah keluarga. Banyak hal yang bisa kita lihat tentang kehidupan keluarga. Peristiwa-peristiwa penting dalam keluarga biasanya ditampilkan oleh tokoh biografi seseorang. Tokoh yang ditulis akan menceritakan peristiwa apa saja yang terjadi pada keluarga dan dirinya. Mulai dari peristiwa kelahiran, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, peristiwa  pernikahan dan peristiwa lainnya.

2.     Sejarah sebagai kisah,
Sejarah sebagai kisah adalah hasil rekonstruksi dari suatu peristiwa  oleh para sejarawan. Untuk mewujudkan sejarah sebagai kisah diperlukan fakta-fakta yang diperoleh dari sumber sejarah.  Wujud sejarah sebagai kisah berupa tulisan atau buku-buku sejarah yang dapat kita baca. Sejarah sebagai kisah dapat diulang-ulang, ditulis oleh siapa saja dan kapan saja. Dalam bentuk kisah sejarah inilah peristiwa masa lalu dihadirkan sebagai data sejarah. Sejarah sebagai kisah memiliki sifat subjektif.
      Sejarah sebagai kisah berupa narasi yang disusun dari memori, kesan, atau tafsiran manusia terhadap kejadian yang terjadi atau berlangsung pada masa lampau. Artinya, sejarah bersifat serba subjek. Hal ini berbeda dengan sejarah sebagai peristiwa yang bersifat objektif. Sejarah sebagai kisah dapat menjadi subjektif karena sejarah sebagai kisah adalah sejarah sebagaimana dituturkan, diceritakan oleh seseorang. Satu peristiwa yang sama jika dituturkan oleh dua orang atau lebih akan menghasilkan suatu penuturan cerita yang berbeda. Karena setiap orang akan memberikan tafsiran yang berbeda tentang peristiwa tersebut.
      Sejarah sebagai kisah dapat berbentuk lisan maupun tulisan. Misalnya jika kita menanyakan tentang bagaimana pengalaman atau tafsiran seseorang terhadap suatu peristiwa. Maka jawaban atau penuturan secara lisan orang tersebut itulah yang disebut sejarah sebagai kisah.
      Sedangkan bentuk tulisan sejarah sebagai kisah dapat berupa catatan-catatan atau buku-buku sejarah yang menceritakan tentang kejadian yang telah terjadi.
      Sejarah sebagai kisah bersifat subjektif karena dipengaruhi oleh interpretasi yang dilakukan oleh penulis. Subjektivitas tersebut terjadi lebih banyak disebabkan oleh faktor-faktor kepribadian dari sipenulis atau penutur sejarah. Faktor-faktor tersebut adalah :

-          Kepentingan dan nilai-nilai;
penulis sejarah memiliki kepentingan dalam menulis atau menuturkan sejarah. Kepentingan itu bisa bersifat pribadi atau kelompok. Kepentingan pribadi akan banyak ditonjolkan dalam sebuah biografi. Seorang tokoh secara pribadi ingin menunjukan bahwa pribadinya mempunyai peran dalam sebuah peristiwa penting. Sedangkan kepentingan kelompok bergantung kepada jenis kelompoknya.
Nilai-nilai yang dimiliki seorang penulis pun akan mempengaruhi penulisan atau penuturan sejarah. Nilai-nilai itu berupa keyakinan yang bersumber dari agama atau moral etika, nasionalisme, dan lain-lain.

-          Kelompok sosialnya;
Kelompok sosial maksudnya dilingkungan dimana ia bergaul dan berhubungan dengan orang-orang yang pekerjaannya atau statusnya sama. Penulisan sejarah biasanya dilakukan oleh ahli sejarah dan juga oleh penulis yang bukan sejarawan seperti wartawan, kolumnis, guru, dan lain-lain. Perbedaan latar belakang kelompok sosial akan memberikan perbedaan dalam penulisan sejarah.
-          Perbendaharaan pengetahuan;
Seberapa jauh pengetahuan yang dimiliki penulis atau penutur sejarah akan mempengaruhi kisah sejarah. Pengetahuan yang dimaksud baik pengetahuan fakta maupun pengetahuan dari ilmu pengetahuan. Bagi  penulis atau penutur yang memiliki wawasan  yang luas akan mengkisahkan  suatu peristiwa dengan jelas dan lengkap. Seorang saksi yang langsung menyaksikan atau terlibat dalam suatu peristiwa akan memiliki pengetahuan fakta yang lebih banyak dibanding dengan orang yang tidak terlibat secara langsung, walaupun orang tersebut mengetahuinya.
Pengetahuan yang dimiliki oleh penulis sejarah akan mempengaruhi terhadap hasil tulisannya. Seorang penulis yang memiliki sumber-sumber atau fakta  sejarah yang banyak, maka ia akan menampilkan suatu kisah sejarah yang lebih mendalam.

-          Kemampuan berbahasa;
Fakta yang ditemukan oleh penulis sejarah akan dikemukakan dalam bentuk bahasa. Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi. Walaupun  seseorang  memiliki sumber dan data yang lengkap, tetapi jika gaya  bahasanya sulit dimengerti oleh pembacanya, maka cerita sejarah itu akan terasa kering, tidak menarik.
Kemampuan berbahasa dalam menulis sejarah dapat berupa kemampuan berimajinasi, yaitu bagaimana seorang penulis merekonstruksi fakta atau bukti-bukti sejarah yang kemudian disusun dalam bentuk cerita sejarah yang dapat dibaca orang lain. Penulis sejarah harus mampu menghidupkan masa lalu. Masa lalu akan menjadi hidup jika seorang penulis mampu mengisahkan dengan gaya bahasa yang baik.

3.    Sejarah sebagai ilmu 
Sejarah sebagai ilmu merupakan suatu proses rekonstruksi dengan menggunakan metode sejarah. Sejarah sebagai ilmu sudah tentu memiliki objek, tujuan, dan metode 
      Sejarah dikatakan sebagai ilmu apabila sejarah memiliki syarat-syarat dari suatu ilmu. Adapun syarat-syarat ilmu adalah :
a.       ada masalah yang menjadi objek
b.       ada metode
c.       tersusun secara sistematis
d.      menggunakan pemikiran yang rasional
e.       kebenarannya bersifat objektif

Syarat-syarat tersebut dapat dipenuhi dalam sejarah. Hal ini dapat kita lihat sebagai berikut :
1)      Masalah yang menjadi objek kajian sejarah adalah kejadian-kejadian dimasa lalu yang menimbulkan perubahan dalam kehidupan manusia, kejadian-kejadian itu merupakan sebab akibat
2)      Metode sejarah adalah cara menangani bukti-bukti sejarah dan menghubungkannya serta memastikannya dengan bukti tentang asal-usul. Kemudian menarik penafsiran dengan bukti peristiwa masa lalu sehingga terlihat probabilitasnya.
3)      Kisah sejarah disusun dengan sistematis, berdasarkan tahun kejadian dan peristiwa yang mengawalinya.
4)      Kebenaran fakta sejarah diperoleh dari penelitian sumber sejarah yang dikumpulkan dengan menggunakan rasio.
5)      Kebenaran fakta sejarah adalah objektif, karena dalam menyusun kisah sejarah harus berdasarkan fakta yang ada.

Sebuah pengetahuan dapat disusun secara sistematis dengan cara menggunakan metode yang dimilikinya. Secara sederhana, metode dapat diartikan sebagai langkah-langkah yang harus ditempuh untuk menjelaskan objek yang dikajinya.
Setiap ilmu pengetahuan memiliki objeknya. Objek sejarah adalah manusia, sehingga sejarah dimasukkan kedalam kelompok ilmu humaniora. Hasil dari penjelasan terhadap objek yang ditelitinya akan melahirkan rumusan-rumusan kebenaran yang disebut teori. Rumusan kebenaran dalam sejarah bersifat unik, tidak umum atau universal. Unik dalam pengertian bahwa kebenaran sejarah hanya berlaku pada situasi atau tempat tertentu saja, belum tentu berlaku pada situasi atau tempat yang lainnya. Revolusi dan pemberontakan sering kali terjadi dalam sejarah Indonesia. Akan tetapi, penyebabnya merupakan hal yang unik, selalu berbeda.
Ciri umum kebenaran ilmu pengetahuan, yaitu bersifat rasional, empiris, dan sementara. Rasional artinya kebenaran itu ukurannya akal. Sesuatu  dianggap benar menurut ilmu apabila masuk akal. Sebagai  contoh, kita mengenal adanya candi Borobudur yang megah. Secara akal dapat dijelaskan bahwa pembangunannya dilakukan oleh manusia biasa dengan menggunakan teknik teknik tertentu sehingga terciptalah sebuah bangunan. Janganlah kita menjelaskan bahwa Borobudur itu dibangun dengan menggunakan  kekuatan-kekuatan diluar kemampuan manusia, misalnya jin, sihir dan jenis-jenis makhluk lainnya.
Bersifat  empiris maksudnya bahwa sejarah melakukan kajian atas peristiwa yang benar-benar terjadi dimasa silam peristiwa itu akan didokumentasikan dan menjadi bahan penelitian para sejarawan untuk menemukan fakta. Fakta-fakta ini kemudian diinterpretasikan sehingga timbul tulisan sejarah. Jika kita bercerita tentang terjadinya perang, maka perang itu benar-benar pernah terjadi berdasarkan bukti-bukti peninggalan yang ditemukan. Atau kemungkinan masih adanya saksi hidup yang masih ada.
Sedangkan bersifat sementara maksudnya adalah bahwa dalam ilmu pengetahuan, kebenaran yang dihasilkan sifatnya tidak mutlak. Tidak seperti halnya kebenaran dalam agama yang bersifat mutlak. Kebenaran ilmu pengetahuan bersifat sementara, artinya dapat dibantah apabila ditemukan teori-teori baru. Dalam sejarah, kebenaran sementara ini dapat dalam bentuk perbedaan penafsiran terhadap suatu peristiwa. Perbedaan ini dapat diterima selama didukung oleh bukti yang kuat. Sifatnya yang sementara inilah yang membuat ilmu itu berkembang terus.
           


4.     Sejarah sebagai Seni
     
      Sejarah dikatakan sebagai seni sebab dalam rangka penulisan sejarah, seorang penulis memerlukan intuisi, imajinasi, emosi, dan gaya bahasa.
      Sejarawan memerlukan intuisi atau ilham, yaitu pemahaman langsung dan insting selama masa penelitian berlangsung. Seringkali dalam rangka memilih suatu penjelasan sejarawan juga memerlukan intuisi. Dalam hal ini cara kerja sejarawan sama dengan cara kerja seorang seniman. Walaupun demikian dalam menuliskan hasil karyanya sejarawan harus tetap berpijak kepada bukti dan data yang ada.
      Seorang sejarawan  harus dapat berimajinasi membayangkan apa yang sebenarnya terjadi pada masa lampau. Misalnya dalam menuliskan cerita tentang perang Padri, ia harus dapat membayangkan bagaimana keadaan alam daerah Minangkabau, kehidupan masyarakatnya, adat istiadatnya sehingga dapat memahami mengapa didaerah tersebut kemudian timbul perang saudara.
      Dalam menulis sejarah, sejarawan dituntut untuk membawa si pembaca seolah-olah hadir dan menyaksikan sendiri peristiwa sejarah. Dalam hal ini sejarawan haruslah mempunyai emosi yang tinggi untuk menyatukan perasaan dengan objeknya. Sifat ini sangat penting untuk mewariskan nilai-nilai perjuangan.
      Penggunaan gaya bahasa juga diperlukan dalam penulisan sejarah. Gaya bahasa yang baik, bukan berarti yang berbunga-bunga. Terkadang bahasa yang lugas lebih menarik. Dalam tulisan sejarah, deskripsi itu seperti melukis naturalistis. Hal yang diperlukan adalah kemampuan untuk menuliskan detil.
      Seni satra dapat menyumbangkan karakteristik pada tulisan sejarah. Sejarawan  harus bisa menggambarkan watak manusia dalam descripsinya. Plot atau alur cerita diperlukan  juga dalam sejarah. Kisah  yang berangkai, dari pendahuluan, inti cerita dan penutup akan memberi nyawa pada kisah sejarah.
      Tokoh penganjur sejarah sebagai seni adalah George Macauly Travelyan. Dikatakannyta bahwa menulis sebuah kisah peristiwa sejarah tidak mudah karena memerlukan imajinasi dan seni. Menulis sejarah merupakan seni, filsafat, polemik, dan dapat sebagai propaganda. Dalam penulisan kisah sejarah, perlu menggunakan bahasa yang indah, komunikatif, menarik, dan isinya mudah dimengerti. Oleh karena itu, diperlukan seni dalam penulisannya. Seorang penulis sejarah harus bersedia menjadi ahli seni yang menghidupkan kembali kisah kehidupan masa lampau untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Dengan demikian, selain unsur ilmiah yang terdapat dalam sejarah, juga terdapat unsur seni.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More