Blogroll

Akrab Senada, adalah Aktif dan rajin belajar sejarah nasional dan dunia. merupakan kumpulan pemikiran, program, dan materi pelajaran dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar Sejarah khususnya tingkat SMA.

Wednesday, August 28, 2013

Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Kolonialisme Barat



a.     Perlawanan Rakyat Terhadap VOC
1)     Perlawanan Rakyat Ternate(1650) dan Tidore (1780-1805)
        Karena VOC mengakui kedaulatan Ternate atas daerah Ambonia, hubungan antara VOC dan penguasa Ternate berlangsung baik dan bersahabat. Persahabatan antara Sultan Ternate dan pemimpin-pemimpin VOC ternyata tidak disenangi rakyat. Oleh sebab itu, rakyat memberontak terhadap sultannya sendiri yang kemudian diusir dar daerahnya. Selanjutnya perlawanan rakyat ditujukan kepada VOC yang dipimpin oleh Laksamana Saidi. Dengan gigih, Laksamana Saidi mempertahankan setiap jengkal tanahnya dari kekuasaan VOC. Namun, persenjataan VOC lebih kuat dan modern sehingga pasukan Laksamana Saidi terdesak. Pasukan VOC yang dipimpin De Vlamingh berhasil menangkap Laksamana Saidi yang kemudian dibunuhnya.
        Setelah Ternate berhasil dikuasai, VOC kemudian meluaskan kekuasaannya ke Tidore. Kekuasaan VOC mulai tertanam di Tidore setelah mengangkat Patra Alam sebagai Sultan Tidore menggantikan Sultan Jamaludin yang diasingkan oleh VOC ke Sailan. Ternyata rakyat tidak mau mengakui Patra Alam sebagai sultan Tidore karena menganggap Patra Alam sebagai “sultan boneka” VOC. Rakyat Tidore lebih menyukai Nuku (anak Sultan Jamaludin) sebagai sultan Tidore.
        Pada tahun 1780, rakyat Tidore yang dipimpin oleh Nuku mulai melakukan perlawanan terhadap VOC. Perlawanan rakyat Tidore terhadap VOC ini berlangsung sampai tahun 1805 (ketika itu VOC sudah digantikan oleh Pemerintah Hindia Belanda). Dengan demikian, secara politis sebenarnya VOC tidak pernah berhasil menangkap Sultan Nuku.

2)     Perlawanan Rakyat Banten
        Perlawanan rakyat Banten terhadap VOC disebabkan oleh VOC yang menunjukkan sikap permusuhan terhadap Banten. Pada mulanya kedatangan armada Cornelis de Houtman di Banten tahun 1596 disambut dengan baik karena mereka pada awalnya berniat untuk berdagang. Namun dalam perkembangannya, VOC melakukan praktek-praktek monopoli dalam perdagangan yang sangat merugikan Banten.
        Direbutnya pelabuhan Jayakarta oleh VOC pada tahun 1619, menjadi pertanda munculnya permusuhan terbuka antara Banten dan VOC. Rakyat Banten di bawah pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682) melakukan perlawanan-perlawanan gerilya terhadap posisi pertahanan atau loji-loji (benteng pertahanan) VOC di Banten dan Jayakarta. Pendekar Banten yang sangat terkenal dalam melakukan perlawanan terhadap VOC adalah Kyai Tapa beserta muridnya Tubagus Buang.
        Namun, antara Sultan Ageng dan putranya Sultan Haji terdapat perselisihan. Kesempatan ini tidak dilewatkan oleh VOC untuk melancarkan taktik devide et impera, yaitu mengadudomba dan memperuncing perselisihan antara Sultan Ageng dengan Sultan Haji. Dalam perselisihan ini, VOC membantu Sultan Haji dengan menawarkan bantuan persenjataan modern pada waktu itu serta menjanjikan akan mengangkat Sultan Haji sebagai Sultan Banten.
        Dalam suatu pertempuran, Sultan Ageng berhasil ditangkap oleh VOC yang dipimpin oleh Kapten Tack dengan bantuan Sultan Haji. Selanjutnya Sultan Ageng dipenjarakan di Batavia, sedangkan Sultan Haji diangkat oleh VOC sebagai penguasa Banten.

3)     Perlawanan Rakyat Mataram
        Kegiatan monopoli perdagangan yang dilakukan VOC khususnya di wilayah kekuasaan Mataram sangat merugikan perekonomian Kerajaan Mataram. Hal ini menyebabkan Sultan Agung yang memang berambisi sebagai penguasa tunggal di Tanah Jawa menjadi marah terhadap sepak terjang VOC dalam berdagang. Selain itu, VOC dianggap telah membawa pengaruh buruk terhadap budaya Jawa dan Islam. Oleh karena itu, Sultan Agung berencana akan menyerang posisi VOC.
        Serangan pertama dilakukan oleh pasukan Mataram terhadap markas VOC di Jepara tanggal 18 Agustus 1618. Sedangkan serangan kedua dan ketiga ditujukan langsung ke markas pusat di Batavia yaitu pada tahun 1628 dan 1629. Dengan jarak ratusan kilometer yang harus ditempuh dalam beberapa minggu, pasukan Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso berangkat menuju Batavia. Sasaran penyerangan adalah benteng-benteng pertahanan VOC, tetapi upaya ini mengalami kegagalan karena benteng pertahanan VOC sangat kuat. Bahkan Bahurekso sendiri gugur. Karena gagal dalam penyerangan tersebut, pasukan Mataram mengubah siasat perangnya, yaitu dengan cara membendung aliran Sungai Ciliwung. Akibatnya pasukan VOC yang berada di dalam benteng pertahanan menderita karena kekurangan air dan diserang wabah penyakit. Di lain pihak, pasukan Mataram pun mengalami kekurangan perbekalan sehingga menimbulkan kelaparan. Akhirnya pasukan Mataram mengundurkan diri dari penyerangan tersebut.
        Kegagalan dalam penyerangan yang pertama sangat mengecewakan Sultan Agung yang segera menghimpun kembali kekuatannya untuk melakukan penyerangan berikutnya. Serangan pasukan Mataram ke Batavia yang kedua dilakukan tahun 1629. Jumlah pasukan yang dikirim + 4.000 prajurit yang dipimpin oleh Tumenggung Suro Agul-Agul, Kyai Dipati Mandurorejo, dan Upasanta. Untuk mendukung bidang logistik, pasukan Mataram membangun gudang-gudang beras seperti di Tegal, Cirebon, dan Karawang. Serangan tetap ditujukan ke benteng-benteng pertahanan VOC. Serangan yang kedua ini membuat pasukan VOC kewalahan. Untuk itu, pasukan VOC berusaha memutus jalur logistik dengan menghancurkan gudang-gudang penyimpanan perbekalan pasukan Mataram. Akhirnya, pasukan Mataram terpaksa harus mundur karena kehabisan perbekalan dan kelelahan.
        Meskipun mengalami kegagalan dalam dua kali penyerangan, ada hal-hal yang sangat penting untuk dicatat dan diingat, bahwa penyerangan pasukan Mataram ini sangat mengejutkan VOC. Karena dengan jarak yang sangat jauh pasukan Mataram berani menyerang markas pusat VOC di Batavia dua kali. Mataram merupakan kerajaan satu-satunya di Indonesia yang berani menyerang markas VOC dengan jarak tempuh yang begitu jauh. Bagaimanapun hal ini jelas menimbulkan rasa respek (hormat) VOC kepada pasukan Mataram dan rajanya, Sultan Agung. Dengan demikian, dalam menghadapi kekuatan Mataram, VOC harus mencari taktik dan strategi yang berbeda untuk menghancurkannya.

4)     Perlawanan Rakyat Makasar (Gowa)
        Sejak abad ke-16, Makasar dengan Kelsultanan Gowa telah muncul sebagai pelabuhan dagang yang ramai di Nusantara. Para pedagang dari wilayah Barat (Selat Malaka) yang menuju wilayah Timur (Perairan Maluku) dan sebaliknya selalu singgah di Makasar. Kemajuan Makasar sebagai bandar pelabuhan yang strategis menarik perhatian VOC untuk menguasainya. Sikap politik perdagangan terbuka Makasar yang menerima kedatangan para pedagang asing dianggap merugikan VOC yang ingin menjadi penyalur tunggal perdagangan rempah-rempah di Nusantara. VOC berusaha mempengaruhi para pedagang Maluku agar tidak memenuhi permintaan barang-barang yang dipesan pedagang Makasar. Kebetulan pada waktu itu Kesultanan Gowa sedang berada dalam konflik intern karena perebutan kekuasaan. Hal tersebut dijadikan kesempatan bagi VOC untuk ikut campur di dalamnya. Selain itu, kapal-kapal dagang Makasar yang biasa hilir mudik antara Gowa dan Maluku sering diganggu oleh kapal VOC. Akibatnya timbul ketegangan yang meningkat menjadi bentrokan bersenjata antara kedua belah pihak.
        Pada waktu itu yang menjadi penguasa di Kesultanan Gowa adalah Sultan Hasanuddin yang digelari VOC sebagai “Ayam Jantan dari Timur” tidak tahan melihat rakyatnya yang selalu diganggu oleh VOC dan melakukan monopoli perdagangan. Pada tahun 1633, Sultan Hasanuddin mengobarkan perang terhadap VOC yang disusul dengan penyerangan terhadap pasukan-pasukan VOC. Pada tahun 1634, VOC balik menyerang Makasar, maka meletuslah perang terbuka yang dahsyat. Peperangan berlangsung dari tahun 1633 sampai dengan tahun 1668. Rakyat Makasar yang terkenal dengan pelaut-pelaut ulung berani mendobrak blokade-blokade laut yang dilancarkan VOC, sehingga VOC kewalahan.
        Perlawanan rakyat Makasar akhirnya mengalami kekalahan setelah digempur habis-habisan oleh pasukan VOC yang dibantu oleh pasukan Bone dengan rajanya Aru Palaka. Sultan Hasanuddin akhirnya menyerah kepada VOC dan dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada tahun 1668, yang berisi :
a)       Kesultanan Gowa harus mengakui monopoli perdagangan VOC;
b)       Wilayah Kesultanan Gowa hanya meliputi daerah Gowa saja;
c)        Daerah-daerah taklukkan Gowa harus diserahkan kepada VOC;
d)       Gowa harus mengganti kerugian perang yang dialami VOC;
e)       Kesultanan Gowa tertutup bagi pedagang-pedagang asing, kecuali VOC;
f)        Benteng-benteng Gowa harus dihancurkan;
g)       VOC akan menempatkan gubernur dan pasukan yang kuat untuk mengawasi pelaksanaan Perjanjian Bongaya.
        Isi Perjanjian Bongaya tersebut jelas sangat merugikan rakyat dan kesultanan Gowa. Karena itu, banyak para pejuang Makasar yang tidak mau mengakui isi perjanjian tersebut. Mereka terus berjuang menentang dominasi VOC di Makasar. Beberpa pejuang Makasar banyak yang meninggalkan daerahnya menuju daerah-daerah yang aman di Nusantara, terutama di Pulau Jawa. Misalnya Bontomarannu dan Kraeng Galesung ikut berjuang membantu Trunojoyo dari Madura melawan VOC.

b.     Perlawanan Rakyat Terhadap Pemerintah Kolonial Belanda
1)     Perlawanan Rakyat Maluku (1817)
         Perlawanan rakyat Maluku terhadap kolonialis Belanda dipimpin oleh salah seorang pejuang Saparua, yaitu Thomas Matulessy yang kemudian terkenal dengan sebutan Kapitan Pattimura. Perlawanan rakyat Maluku sebenarnya bukan hal yang baru, yakni sejak zaman VOC berkuasa dan menindas rakyat. Pada masa kekuasaan Belanda yang kedua, rakyat Maluku bangkit untuk yang kesekian kalinya. Hal tersebut disebabkan oleh penindasan Belanda terhadap rakyat sudah diluar batas-batas kemanusiaan. Rakyat dituntut untuk bekerja sebagai rodi. Hal inilah yang mendorong Pattimura memimpin perlawanan rakyat Maluku terhadap Belanda.
         Pada mulanya pasukan Pattimura memperoleh kemenangan dengan berhasil direbutnya benteng pertahanan Belanda di Saparua yang bernama Benteng Duurstede. Selain itu, kantor-kantor pemerintahan pun tidak luput dari penyerangan rakyat Maluku.

        Residen Belanda beserta istrinya meninggal dalam penyerangan tersebut. Pertempuran kemudian meluas ke seluruh wilayah Maluku. Untuk mengatasi perlawanan rakyat Maluku, Belanda melancarkan penumpasan besar-besaran di pulau-pulau Saparua, Ambon, dan Haru. Meskipun memakan waktu yang lama, akhirnya Pattimura beserta rekan seperjuangannya berhasil ditangkap dan di hukum gantung di hadapan rakyat pada tanggal 16 Desember 1817. Dalam pertempuran tersebut terdapat juga seorang pejuang wanita, yaitu Christina Martha Tiahahu.

2)     Perlawanan Kaum Paderi (1821-1837)
        Penyebaran agama Islam di Minangkabau telah berlangsung lama. Salah seorang ulama yang berjasa dalam pengembangan Islam adalah Syeh Burhanuddin, ia dikenal sebagai murid Abdurauf tokoh ulama Islam di Singkel. Sekalipun rakyat Minangkabau telah lama memeluk Islam tetapi sebagian besar dari mereka masih memegang teguh adat dan menjalankan kebiasaan lama seperti berjudi, minum-minuman keras, menyabung ayam sekalipun dalam hal itu termasuk perbuatan yang terlarang.
        Pada awal abad ke-19 terjadi perubahan kehidupan pada masyarakat Minangkabau. Hal ini ditandai dengan banyaknya para haji yang kembali pulang dari Mekkah. Kedatangan para haji itu membawa pandangan-pandangan baru dalam menjalankan syariat beragama. Selama di Mekkah mereka telah menyaksikan adanya gerakan kaum Wahabi yang sedang berusaha keras untuk mengadakan pembersihan dalam masyarakat Islam terhadap tindakan yang menyimpang dari ajaran Qur’an dan Hadist. Mereka bertekad untuk mengadakan pembersihan terhadap kebiasaan dari ajaran Islam. Tokoh golongan ini adalah Haji Piobang, Haji Miskin dan Haji Sumanik. Dalam kegiatan  selanjutnya golongan mereka dikenal sebagai kaum “Paderi”. Tujuan kaum Paderi terutama memperbaiki masyarakat Minangkabau dan mengembalikannya kepada kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya.
        Ajaran baru ini menimbulkan pro dan kontra, sehingga muncul dua golongan yang berbeda pandangan yaitu Kaum Paderi dan Kaum Adat. Pertentangan kedua golongan masyarakat Minangkabau ini menjadi berubah setelah datangnya campur tangan pihak Belanda yang kemudian membantu Kaum Adat. Akibatnya Kaum Paderi mengangkat senjata secara untuk melawan terhadap Belanda yang hendak menanamkan kekuasaannya di Minangkabau. Peperangan ini yang dikenal sebagai Perang Paderi berlangsung dalam tiga periode, yaitu periode pertama dari tahun 1821-1825, periode kedua terjadi antara tahun 1826-1830, dan periode ketiga dari tahun 1831-1837.
        Pada periode pertama dimulai dengan serangan pasukan Paderi terhadap pos-pos pertahanan Belanda di Simawang pada tanggal 18 Februari 1821. Peperangan ini diakhiri oleh Perjanjian Masang pada tanggal 22 Januari 1824 antara Kaum Paderi dengan Belanda, yang berisi antara lain :
a)       Kaum Paderi harus bersikap damai dan bersahabat dengan Pemerintah Kolonial Belanda;
b)       Persenjataan Belanda yang dirampas berikut tawanan Belanda harus diserahkan oleh Kaum Paderi kepada Belanda;
c)        Kaum Paderi harus mengakui monopoli perdagangan garam oleh Belanda;
d)       Belanda tidak akan turut campur dalam urusan pemerintahan dalam negeri masyarakat Minangkabau dan urusan agama;
e)       Belanda akan mengembalikan tahanan perang Kaum Paderi;
        Namun, baru saja perjanjian berlangsung 30 hari, Belanda telah melanggarnya yang ditandai dengan penyerangan pasukan Belanda ke daerah Lawas. Dengan demikian, perjanjian tersebut tidak berlaku lagi. Pada periode kedua, pertahanan Belanda mulai melemah dan terdesak, karena Belanda lebih mengkonsentrasikan peperangannya di Jawa dalam menghadapi pasukan Diponegoro.
        Setelah menyelesaikan Perang Diponegoro, pihak Belanda mencurahkan kembali perhatiannya untuk menumpas perlawanan Kaum Paderi. Perlawanan Kaum Paderi semakin menghebat dengan mengobarkan Perang Jihad. Akibat kewalahan, Belanda kemudian melancarkan siasat perdamaian dengan memperkenalkan Plakat Panjang tanggal 25 Oktober 1833, yang isinya antara lain : Belanda akan menghentikan perang dan tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Minangkabau, Belanda tidak akan menarik iuran-iuran dari rakyat, serta monopoli perdagangan kopi, lada, dan garam akan ditinjau ulang agar saling menguntungkan kedua belah pihak.
Namun, karena khawatir Belanda akan ingkar janji lagi, rakyat tidak memperdulikan Plakat tersebut dan terus melancarkan perlawanan.
        Akhirnya Belanda mengerahkan segenap kekuatannya untuk menggempur pasukan Kaum Paderi hingga banyak menimbulkan korban jiwa di kalangan rakyat. Pada tahun 1837, Belanda berhasil menguasai daerah Bonjol. Sedangkan pemimpin Kaum Paderi yaitu Imam Bonjol berhasil ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Pada tanggal 19 Januari 1839, Imam Bonjol dibuang lagi ke Ambon dan pada tahun 1841 dipindahkan lagi ke Menado sampai meninggalnya di sana tanggal 6 November 1864.


3)     Perlawanan Pangeran Diponegoro(1825-1830)
        Kondisi kerajaan Mataram sekitar abad ke-18 bertambah menurun. Dominasi kekuasaan Belanda semakin merajalela di Pulau Jawa. Perpecahan intern di kalangan istana semakin memperlemah Mataram, hal yang sebaliknya semakin memperkuat kedudukan Belanda. Setiap pertentangan antarkeluarga istana selalu mengundang campur tangan pihak Belanda. Pada masa Daendels, Belanda menghendaki persamaan derajat dengan Sultan dalam kunjungan resmi di keraton. Daendels menuntut agar para pembesar Belanda duduk sejajar dengan raja dan sajian sirih supaya dihapuskan. Tidak hanya itu, Belanda berusaha memasukkan budaya Barat, seperti minum-minuman keras dan pesta dansa ke dalam keraton, sehingga Sultan di mata golongan pemuka agama Islam tidak lagi dipandang sebagai khalifah seperti halnya pada masa Sultan Agung.
        Dalam kondisi yang demikian muncullah kelompok bangsawan dan kaum ulama yang bereaksi keras menentang keadaan tersebut. Salah seorang bangsawan yang anti Belanda adalah Pangeran Ontowiryo yang dikenal dengan nama Diponegoro. Ia menunjukkan sikap anti Belandanya dengan membangkang terhadap setiap peraturan atau keinginan pihak Belanda. Tindakan Diponegoro tersebut juga diikuti oleh rakyat Mataram yang juga merasakan tindakan kesewenang-wenangan Belanda. Kebencian meningkat menjadi kemarahan ketika Belanda mencoba untuk memasang jalan yang akan melintasi tanah makam leluhur Diponegoro di Tegalrejo, pembuatan jalan itu dilakukan tanpa seijin Pangeran Diponegoro tentu saja mendapat tantangan keras. Patok-patok yang telah dipasang kemudian dicabuti oleh anak buah Pangeran Diponegoro. Hal tersebut menimbulkan kemarahan dari pihak Belanda. Hal inilah yang menjadi sebab khusus (cassus belli) munculnya Perang Diponegoro, atau oleh Belanda disebut sebagai “Perang Jawa” yang berlangsung dari tahun 1825 sampai tahun 1830.
         Peperangan dimulai dengan penyerangan pasukan Belanda ke tempat kediaman Pangeran Diponegoro di Tegalrejo. Dengan bersenjatakan tombak, keris, lembing, golok, dan senjata tradisional lainnya, rakyat yang dipimpin Pangeran Diponegoro membalas serangan tersebut. Dalam peperangan ini, Pangeran Diponegoro mendapat bantuan dari Kyai Mojo yang mengumandangkan “Perang Sabil” atau “Jihad Fisabilillah”. Semangat perang jihad tersebut tentu saja membakar semangat rakyat yang selama itu menderita akibat tindakan pemerasan Belanda. Akibatnya, dalam peperangan ini Belanda banyak terdesak, apalagi setelah peperangan dibantu oleh Sentot Alibasyah Prawirodirjo (1825 -1826).


        Pihak Belanda berusaha mencari taktik untuk menghadapi perang Diponegoro. Pada tahun 1827 Jenderal De Kock membuat siasat perang baru yang terkenal Benteng Stelsel. Sistem ini bertujuan untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro. Caranya adalah membangun benteng-benteng pertahanan di daerah-daerah yang telah dikuasai oleh Belanda. Satu per satu para pemimpin perjuangan berhasil ditangkap oleh Belanda, seperti Pangeran Suryomataram, Ario Prangwadoni, Pangeran Serang, Pangeran Notoprojo, Pangeran Notodiningrat, dan putra Pangeran Mangkubumi pada tahun 1828. Demikian juga tokoh lain, seperti  pangeran Ario Papak dan Sosrodilogo (Pangeran dari Rembang) juga menyerah. Sementara itu, Sentot Prawirodirdjo menyerah pada tahun 1929. Menyerah dan ditangkapnya tokoh-tokoh perlawanan menjadikan perlawanan rakyat semakin melemah. Kecuali, Pangeran Diponegoro yang terus berjuang beserta para pengikutnya dengan cara bergerilya. Belanda berusaha menangkap Pangeran Diponegoro tetapi selalu mengalami kegagalan. Sekalipun telah menyediakan uang hadiah sebesar 20.000 ringgit, belanda tetap tidak mampu menangkap Pangeran Diponegoro.
        Dengan tidak bosan-bosannya Belanda menawarkan perundingan kepada Pangeran Diponegoro, tetapi selalu ditolaknya. Melalui perantaraan Kolonel  Klerens, tanggal 16 Februari 1830 Diponegoro bersedia diajak berunding dengan perjanjian bahwa apabila gagal, Diponegoro boleh kembali ke daerah pertahanannya. Berdasarkan kepercayaan dan janji Belanda itu maka pada tanggal 21 Februari 1830 Pangeran Diponegoro beserta pasukannya datang ke Bukit Manoreh dan tanggal 8 Maret 1830 tiba di Magelang. Sementara itu Jenderal De Kock telah mengatur siasat untuk menangkap Diponegoro bila perundingan gagal. Perundingan dilaksanakan di rumah Residen Kedu di Magelang tanggal 28 Maret 1830. Perundingan gagal dan dengan tidak disangka-sangka Diponegoro ditangkap di tempat perundingan. Perlawanan di daerah-daerah makin menurun Diponegoro kemudian di bawa ke Menado, tahun 1834 dipindahkan ke Ujung Pandang dan pada tanggal 8 Januari 1835 Diponegoro meninggal di pembuangan.

4)     Perlawanan Rakyat Bali
        Pada  sekitar abad ke-18, di Bali banyak berdiri kerajaan-kerajaan seperti Gianyar, Klungkung, Karangasem, Badung, Tabanan, Buleleng, dan sebagainya. Kerajaan-kerajaan di Bali itu pada umumnya menganut hukum adat Tawan Karang, yaitu hak untuk merampas kapal asing dan segala isinya yang terdampar di pantai Bali.
        Pada tahun 1844 di pantai Buleleng sebuah kapal milik Belanda terdampar dan dirampas oleh penguasa Buleleng. Belanda menuntut agar Raja Buleleng mengembalikan kapal beserta seluruh isinya, tetapi permintaan tersebut ditolak oleh Raja Buleleng dan patihnya Patih Jelantik. Belanda mengeluarkan ultimatum kepada Raja Buleleng agar menyerahkan Patih Jelantik, yang kemudian disusul dengan pengerahan 1700 pasukan Belanda untuk menyerbu Buleleng pada tahun 1846. Gusti Jelantik, Patih Kerajaan Buleleng, tampil memimpin pasukannya menghadapi serangan Belanda, dan pertempuran dasyat tidak bisa dihindarkan lagi.
        Untuk menghindari korban yang banyak di pihaknya karena kalah dalam kualitas persenjataan, Raja Buleleng akhirnya bersedia berunding dengan Belanda.

        Raja Buleleng dipaksa menandatangani perjanjian pada tahun 1846, yang isinya :
a)    Belanda bebas mengadakan monopoli perdagangan di Bali
b)    Hukum adat hak tawan karang harus dihapuskan
c)     Buleleng harus mengganti ¾ kerugian perang Belanda
        Perjanjian tersebut tidak hanya berlaku di Buleleng saja tetapi di kerajaan-kerajaan lainnya di Bali. Tetapi belakangan diketahui bahwa raja-raja di Bali tidak mau tunduk pada perjanjian tersebut bahkan membatalkan perjanjian dengan Belanda. Maka, pada tanggal 6 Juni 1848 Belanda melancarkan serangan kedua dengan kekuatan 2.665 orang pasukan. Pertempuran meletus di Jagaraga dan Sangit yang banyak menelan korban di pihak Belanda. Jenderal Van der Wiych terpaksa menarik mundur pasukannya dan meminta bantuan ke Batavia. Pada tahun 1849, Belanda mengerahkan pasukannya yang lebih besar untuk menyerang Bali di bawah pimpinan Jenderal Michiels. Meskipun kalah dalam kualitas persenjataan, pasukan kerajaan-kerajaan Bali tetap melawan dengan mengadakan Puputan, yaitu berjuang sampai seluruh pasukannya gugur dalam pertempuran.

5)     Perlawanan Rakyat Aceh
        Ketegangan antara Aceh dan Belanda mulai muncul pada tahun 1858 ketika Belanda mengadakan perjanjian dengan Sultan Siak yang berisi ketentuan bahwa Siak menyerahkan daerah-daerah Deli, Serdang, Langkat, dan Asahan kepada Belanda. Aceh menganggap bahwa daerah-daerah tersebut termasuk wilayah Aceh sejak pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Pada tahun 1871 antara Inggris dan Belanda mengadakan perjanjian yang terkenal dengan nama Traktat Sumatera. Isi traktat tersebut dirasakan akan mengancam kedaulatan Aceh karena dalam perjanjian tersebut ada ketentuan bahwa Inggris memberi kebebasan kepada Belanda untuk mengadakan perluasan daerah di Sumatera, termasuk daerah Aceh. Oleh karena itu Aceh segera memperkuat diri untuk menghadapi kemungkinan ancaman dari Belanda ke wilayahnya. Hubungan dengan luar negeri segera dilakukan antara lain dengan Turki dan pendekatan dengan Amerika Serikat, Italia yang dilakukan di Singapura.
         Untuk mencegah campur tangan asing di Aceh lebih jauh lagi,  Belanda bertindak cepat, dan tahun 1873 mengirimkan pasukannya. Pasukan Aceh menantikan pendaratan pasukan Belanda dan mengadakan perlawanan. Dalam suatu pertempuran di sekitar Masjid Raya, pasukan Aceh menembak mati Jenderal Kohler. Dalam perang Aceh  muncul tokoh-tokoh pemimpin seperti Panglima Polim, Teuku Imam Leung Bata, Cut Banta, Teuku Cik Ditiro, Teuku Umar dan Cut Nyak Dien. Salah seorang pejuang Aceh  yaitu Teuku Umar, pada awalnya menggunakan siasat atau taktik ber”kooperatif” dengan Belanda, yaitu berpura-pura menjadi bagian dari pasukan Belanda.


Padahal sebenarnya ia ingin mengambil kesempatan mencuri senjata dan amunisi Belanda yang kemudian dipergunakan oleh sesama pejuang Aceh untuk melawan Belanda.
         Karena sulitnya Belanda untuk mematahkan perlawanan laskar Aceh, pihak Belanda mencari jalan lain dengan berusaha mengetahui rahasia kekuatan rakyat Aceh terutama yang menyangkut sosial budaya. Oleh karena itu Belanda mengirimkan Snouck Hurgronje, tokoh orientalis Islam, untuk mempelajari segi-segi kehidupan rakyat Aceh. Untuk bisa masuk dan diterima oleh rakyat Aceh, ia berganti nama menjadi Abdul Gaffar (hamba Allah yang beroleh ampunan).  Selama berbulan-bulan Snouck Hurgronje bebas bergaul dengan masyarakat Aceh. Menggali informasi, mengamati, dan menyelidiki dengan seksama tentang orang-orang Aceh yang sering melontarkan kata-kata tat le ase kafe (kita usir anjing kapir) kepada Belanda.

        Dari hasil penelitiannya yang kemudian dituangkan dalam bukunya The Atjehers dan  Verslaag Atjeh, akhirnya dapat diketahui bahwa sebenarnya ­Sultan Aceh itu tidak mempunyai kekuatan apa-apa tanpa persetujuan dari kepala-kepala yang ada di bawahnya. Selain itu dijelaskan pula bahwa pengaruh kaum ulama pada rakyat sangat besar karena itu dirasa sulit untuk menundukkan rakyat yang berkeyakinan agama yang kuat seperti Aceh. Berdasarkan rekomendasi Snouck Hurgronje, Pemerintah Belanda mengambil langkah-langkah yang tepat yaitu dengan taktik memecah belah kekuatan yang ada di kalangan rakyat Aceh. Salah satu caranya ialah bahwa kaum ulama (Tengku) yang memimpin pertempuran dihadapkan dengan kekuatan militer. Sementara itu anak-anak bangsawan diberi kesempatan untuk masuk ke dalam kelompok Pamong Praja di lingkungan pemerintahan kolonial Belanda. Dengan kata lain, untuk melemahkan kekuatan rakyat Aceh harus digunakan dua jalan : “jauhi Tengku (Ulama) dan “dekati” “Teuku (Bangsawan/Uleebalang) di Aceh. Melalui cara tersebut akan terpisahlah kelompok itu dari hubungannya dengan kaum ulama.
        Perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda mulai berkurang setelah Belanda melakukan operasi militer secara besar-besaran yang dipimpin oleh Letkol Van Heuz dengan Pasukan Marsose-nya yang terkenal kejam. Secara bertahap akhirnya para pemimpin perlawanan rakyat Aceh dapat dilumpuhkan. Teuku Umar gugur dalam pertempuran tahun 1899, Sultan Aceh menyerah pada tahun 1903, Panglima Polim menyerah tahun itu juga di Lhokseumawe, sedangkan Cut Nyak Dhien berhasil ditangkap dan dibuang ke Sumedang (Gunung Puyuh). Sejak tahun 1904, Aceh akhirnya jatuh ke tangan Belanda.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More