Blogroll

Akrab Senada, adalah Aktif dan rajin belajar sejarah nasional dan dunia. merupakan kumpulan pemikiran, program, dan materi pelajaran dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar Sejarah khususnya tingkat SMA.

Rabu, 28 Agustus 2013

BENTUK DAN STRATEGI PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA



         Bentuk dan strategi organisasi pergerakan nasional dalam menghadapi kekuatan kolonial Belanda memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya, sekalipun mempunyai tujuan yang sama yaitu mencapai kemerdekaan Indonesia. Bentuknya ada yang berupa organisasi sosial, politik, kebudayaan, gerakan pemuda, gerakan wanita, gerakan buruh maupun keagamaan. Sedangkan strategi yang digunakan oleh pergerakan nasional secara umum sebagai berikut :
1.     menggunakan organisasi sebagai alat perjuangannnya;
2.     perjuangannya sudah bersifat nasional, bukan kedaerahan;
3.     tidak menggunakan kekerasan senjata;
4.     perjuangannya dipimpin oleh tokoh-tokoh agama, kaum terpelajar, tokoh-tokoh pemuda, dan tokoh-tokoh masyarakat;
5.     asas perjuangannya ada yang bersifat kooperatif (tetapi bukan prinsip) dan non-kooperatif.
Berikut ini adalah beberapa pergerakan nasional yang muncul di Indonesia sampai menjelang runtuhnya kolonialisme Belanda :
1.     Budi Utomo
Organisasi pergerakan nasional Indonesia pertama adalah Budi Utomo yang didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908. Pada awal pembentukannya organisasi ini bersifat sosial budaya, karena diawali dengan tujuan hendak meningkatkan martabat dan kecerdasan bangsa Bumi Putera. Untuk mencapai cita-cita tersebut, Dr. Wahidin Sudirohusudo berencana mendirikan “dana belajar” bagi anak-anak pribumi yang tidak mampu. Upaya tersebut kemudian mendapat dukungan dari mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Inlandse Artsen= Sekolah untuk mendidik dokter pribumi), yaitu Soetomo dan Gunawan Mangunkusumo.


Tujuan Budi Utomo pada awalnya bersifat samar-samar, yaitu “kemajuan bagi Hindia”. Ruang geraknya masih terbatas pada penduduk Jawa dan Madura. Dalam kongresnya yang pertama 3-4 Oktober 1908 di Yogyakarta, di antaranya diputuskan bahwa Budi Utomo tidak bergerak dalam kegiatan politik. Hal tersebut ditempuh untuk menghindari kecurigaan pemerintah Hindia-Belanda. Dalam perkembangan selanjutnya, Budi Utomo mengalami perpecahan karena banyaknya golongan pelajar keluar dari organisasi yang tidak menyukai dominasi kaum priyayi.
Ketika meletusnya Perang Dunia I, Budi Utomo melancarkan issue mengenai pentingnya pertahanan sendiri (Indie Weerbar), dengan mendukung dibentuknya wajib militer bagi milisi bumi putera. Pada bulan Desember 1935, Budi Utomo bergabung (berfusi) dengan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) dan berganti nama menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra).

2.     Sarekat Islam
Sarekat Islam pada awalnya bernama Sarekat Dagang Islam yang didirikan pada tahun 1911 di Solo oleh R.M. Tirtoadisuryo. Pada tahun 1912 diganti menjadi Sarekat Islam oleh H. Samanhudi. Latar-belakang ekonomi dan politis didirikannya Sarekat Islam adalah sebagai bentuk perlawanan terhadap golongan pedagang Cina yang melakukan monopoli perdagangan batik, dan dalam rangka menghadapi semua bentuk penindasan, penghinaan, serta kesombongan rasialis baik dari orang-orang Cina maupun kolonalis Belanda.


Berdasarkan anggaran dasarnya, Sarekat Islam bertujuan :
a.        mengembangkan jiwa dagang;
b.       membantu pengajaran dan semua kegiatan yang mempercepat naiknya derajat rakyat;
c.        membantu anggota-anggotanya yang mengalami kesulitan dalam berusaha;
d.       memperbaiki pendapat-pendapat keliru mengenai agama Islam;
e.       hidup menurut perintah agama
Dalam kongresnya yang pertama tahun 1913 di Surabaya, terpilih Haji Oemar Said Tjokroaminoto sebagai ketua Sarekat Islam pusat. Karena sifat keanggotaannya terbuka bagi rakyat, laju perkembangan Sarekat Islam semakin pesat. Sifatnya yang demokratis dan berani berjuang terhadap kaum kapitalis untuk kepentingan rakyat kecil, menarik perhatian kaum sosialis kiri yang tergabung dalam ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging) untuk melakukan infiltrasi ke dalam tubuh Sarekat Islam dan mempengaruhi tokoh-tokoh muda SI seperti Semaun, Darsono, dan Tan Malaka. Akhirnya Sarekat Islam pecah menjadi dua, yaitu Sarekat Islam Putih (Tjokroaminoto-Agus Salim) dan Sarekat Islam Merah (Semaun). SI-Putih kemudian berubah menjadi Partai Sarekat Islam, sedangkan SI-Merah menjadi Sarekat Rakyat yang kemudian diganti lagi menjadi Partai Komunis Indonesia (23 Mei 1920) dimana Semaun sebagai ketuanya.
Adapun yang menyebabkan ISDV berhasil melakukan infiltrasi ke dalam tubuh Sarekat Islam, yaitu : Central SI sebagai badan koordinasi pusat, kekuasaannya masih lemah dimana tiap-tiap cabang SI bertindak sendiri-sendiri. Selain itu, kondisi kepartaian pada waktu itu memungkinkan orang untuk sekaligus menjadi anggota lebih dari satu partai.

3.     Indische Partïj
Indische Partïj (IP) didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung. Tokoh pendiri IP sering juga disebut “Tiga Serangkai” yaitu  E.F.E. Douwes Dekker (Setyabudi), Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) dan Cipto Mangunkusumo. Dilihat dari anggaran dasar dan program kerjanya, IP bertujuan menumbuhkan dan meningkatkan jiwa integrasi semua golongan untuk memajukan tanah air yang dilandasi jiwa nasional. Juga mempersiapkan diri ke arah kehidupan rakyat merdeka.

Indische Partïj merupakan organisasi pertama kali di Indonesia yang betul-betul bercorak politik dan berprogram nasionalisme Indonesia dalam pengertian modern. Paham IP disebarluaskan melalui surat kabar De Expres milik E.F.E. Douwes Dekker.
Indische Partïj yang bercorak politik, mengundang kecurigaan pihak Belanda. Hal ini terbukti ketika IP mengajukan untuk mendapatkan badan hukum ditolak pemerintah Belanda dengan alasan organisasi ini dianggap mengancam keamanan umum. Pada tanggal 9 Agustus 1913, ketiga tokoh IP ditangkap dan dikenakan hukum buang oleh Belanda. Penangkapan Tiga Serangkai tersebut dipicu oleh pembentukan Komite Bumi Putera yang memuat tulisan Ki Hajar Dewantara yang berjudul Als ik eens Nederlander was (Andaikata Aku seorang Belanda). Dalam tulisan tersebut, Ki Hajar Dewantara menyindir ketumpulan perasaan orang Belanda yang tidak malu-malu untuk menyuruh rakyat Indonesia yang masih berada dalam cengkaraman penjajahan Belanda, untuk ikut merayakan 100 tahun bebasnya Belanda dari kekuasaan Perancis.

4.     Gerakan Keagamaan
1)     Muhammadiyah
Muhammadiyah merupakan organisasi yang bersifat keagamaan, didirikan oleh K.H. Achmad Dahlan pada tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta. Tujuan dari organisasi ini adalah memurnikan ajaran Islam sesuai dengan Al Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad saw. Untuk mencapai tujuan tersebut, Muhammadiyah bergerak dalam pendidikan keagamaan, seperti :
a)     mengadakan kegiatan-kegiatan sosial dan budaya;
b)    mendirikan sekolah-sekolah keagamaan;
c)     mengadakan dakwah-dakwah keagamaan.

Terhadap pemerintah Hindia-Belanda, Muhammadiyah bersifat kooperatif, dalam arti tidak bersifat prinsipil. Dalam tahun-tahun pertama, Muhammadiyah tidak mengadakan pembagian tugas yang jelas di antara anggota-anggotanya. Hal itu semata-mata karena ruang geraknya masih terbatas di daerah Kauman, Yogyakarta. Tetapi sejak tahun 1917, daerah operasi Muhammadiyah mulai ditingkatkan dan pada tahun 1920, Muhammadiyah mulai diperluas ke luar Pulau Jawa. Cabang utama yang pertama di luar Pulau Jawa didirikan di Minangkabau, Sumatera Barat di bawah pimpinan Haji Rasul. Pada tahun 1927, mendirikan lagi cabangnya di Bengkulu, Banjarmasin, dan Amuntai. Pada tahun 1929, pengaruh Muhammadiyah meluas ke Aceh dan Makasar.
Kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan yang dilakukan Muhammadiyah, antara lain :
a)     Membentuk PKU (Penolong Kesengsaraan Umum) untuk membantu orang-orang miskin, yatim piatu, korban bencana alam, dan mendirikan klinik-klinik kesehatan;
b)    Membentuk Gerakan kepanduan yang diberi nama Hisbul Wathan pada tahun 1918;
c)     Mendirikan lembaga Majlis Tarjih berdasarkan Keputusan Kongres Muhammadiyah di Pekalongan tahun 1927. Tujuannya adalah mengeluarkan fatwa, atau kepastian hukum tentang masalah-masalah tertentu yang dipertentangkan oleh masyarakat Islam;
d)    Mendirikan Lembaga Pendidikan Muhammadiyah, seperti sekolah guru, SD 5 tahun, dan madrasah.

2)     Nahdhatul Ulama
Nahdhatul Ulama (NU) didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya. Tokoh-tokoh pendirinya antara lain KH. Hasyim Asyari (Pesantren Tebuireng), KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri (Pesantren Jombang), KH. Ridwan (Semarang), dan lain-lain. Latar belakang didirikannya NU antara lain untuk memelihara kebiasaan bergama Islam secara tradisi menurut mazhab Syafi’I, Maliki, Hanafi, dan Hambali.
Dalam mencapai cita-citanya, NU melakukan berbagai kegiatan, antara lain :
a)     mengadakan perhubungan di antara ulama-ulama yang bermazhab Syafi’I, Maliki, Hanafi, dan Hambali.
b)    memeriksa kitab-kitab yang akan dipergunakan sebelum mengajar agar dapat diketahui apakah kitab itu termasuk kitab-kitab Ahli Sunnah Wal Jama’ah atau kitab-kitab ahli bid’ah.
c)     menyiarkan agama Islam berasaskan pada kitab Ahli Sunnah Wal Jama’ah.
d)    membangun madrasah-madrasah, mesjid, pondok-pondok pesantren, serta hal-hal yang berhubungan dengan anak yatim-piatu serta fakir miskin.

5.     Pergerakan Taman Siswa
Setelah Indische Partij dilarang oleh pemerintah Hindia-Belanda tahun 1913, salah seorang tokohnya yaitu Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) mengalihkan perjuangannya ke bidang pendidikan. Pada tanggal 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Tujuannya adalah memajukan pendidikan bangsa Indonesia agar mempunyai harga diri yang sama dengan bangsa lain yang merdeka. Meskipun tidak bergerak dibidang politik, tetapi Perguruan Taman Siswa termasuk organisasi yang mempunyai andil dalam pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan.
Sekolah-sekolah yang didirikan diantaranya, Taman Kanak-Kanak disebut Taman Indiria, Sekolah Dasar disebut Taman Anak, SLTP disebut Taman Muda, dan SLTA disebut Taman Madya. Semboyan pendidikannya yang terkenal adalah “Ing ngarso sung tulodo” (di depan harus memberikan contoh atau teladan), “Ing madya mangun karso” (jika di tengah harus bekerja sama), dan “Tut wuri handayani” (jika di belakang harus memberikan dorongan). Semboyan ini kemudian menjadi semboyan Departemen Pendidikan Nasional. Sementara itu, hari lahir Ki Hajar Dewantara tanggal 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

6.     PNI (Partai Nasional Indonesia)
PNI didirikan di Bandung tanggal 4 Juli 1927 sebagai penjelmaan dari Algemene Studie Club. Tokoh-tokoh pendirinya yaitu Ir. Soekarno, Dr. Tjiptomangunkusumo, Soejadi, Mr. Iskaq Tjokrohadisuryo, Mr. Boediarto, Mr. Soenario, Mr. Sartono, dan Dr. Samsi. Dalam anggaran dasarnya, tujuan PNI adalah mencapai Indonesia Merdeka. Asas PNI adalah self-help (menolong diri sendiri) dan macht vorming (kekuatan sendiri); bersifat non-kooperatif dengan kaum imperialis. Sedangkan ideologinya adalah marhaenisme (nama seorang petani di Bandung Selatan) yang mendasarkan kekuatan pada rakyat kecil seperti petani, buruh, dan pedagang kecil yang mampu berdikari dan tidak bergantung kepada orang lain. Asas PNI, mengadopsi dari ajaran atau gerakan Mahatma Gandhi (swadesi, satyagraha, hartal), sedangkan ideologi Marhaen mengadopsi dari gerakan proletariat kaum sosialis.
Karena kegiatannya yang antipenjajah, radikal, dan ekstrim (dimata Belanda), tokoh-tokohnya sering diperingati dan dalam pengawasan polisi Hindia-Belanda. Pada tanggal 17-18 Desember 1927, PNI berhasil memelopori pembentukan PPPKI (Perhimpunan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia). Pada tanggal 24 Desember 1929, pemerintah Hindia-Belanda menangkap empat tokoh PNI, yaitu Ir. Soekarno, Maskoen Sumadireja, Gatot Mangkoepraja, dan Supriadinata. Mereka ditangkap karena dituduh melakukan provokasi untuk melakukan pemberontakan kepada Belanda. Di depan sidang Pengadilan Negeri (Landraad) Bandung, Ir. Soekarno mengajukan pembelaannya yang berjudul “Indonesia Menggugat”.
Meskipun tidak ada bukti kongkrit untuk melakukan pemberontakan, tetapi pada akhirnya ke empat tokoh PNI tersebut dijatuhi hukuman penjara di penjara Sukamiskin, Bandung.
Ditangkapnya tokoh-tokoh penting PNI (khususnya Soekarno) oleh Belanda, Mr. Sartono mengambil inisiatif membubarkan PNI, dengan alasan “untuk menghindari atau mendahului vonis Belanda yang menetapkan PNI sebagai partai terlarang”. Mr. Sartono kemudian mendirikan Partai Indonesia (Partindo), sedangkan pemimpin lain yang tidak setuju terhadap pembubaran PNI, mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru) dengan tokoh-tokoh utamanya Drs. Moh. Hatta dan Sutan Syahrir. Ketika keluar dari penjara, Ir. Soekarno akhirnya memilih Partindo sebagai media gerakan politiknya.


7.     Perhimpunan Indonesia
Pada permulaan abad ke 20, telah ada sejumah orang Indonesia yang ada di Negeri Belanda. Mereka mendirikan Indische Vereneging dengan tokoh pendirinya yaitu R. Panji Sosrokartono, RM. Notosuroto dan R. Husendjajadiningrat. Perkumpulan tersebut merupakan perkumpulan sosial yang memperhatikan kepentingan anggotanya yang ada di luar negeri. Sedangkan untuk media komunikasi diterbitkan majalah Hindia Putera.


Berkembangnya paham nasional yang makin kuat, telah mendorong mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda untuk mengubah nama Indische Vereneging menjadi Indonesia Vereneging pada tahun 1922. Dalam perkembangannya dua tahun kemudian, namanya diubah lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Tokoh-tokohnya antara lain Dr. Soetomo, Dr. Gunawan Mangunkusumo, Drs. Moh. Hatta, Iwa Kusumasumantri, dan Ali Sastroamijoyo. Kegiatan PI, tidak hanya di Negeri Belanda saja melainkan di tingkat internasional dengan ikut ambil bagian dalam Liga Penentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial. Dalam Kongres Liga Demokrasi Internasional Untuk Perdamaian pada bulan Agustus 1926 di Paris, Moh. Hatta dengan tegas menyatakan tuntutan untuk kemerdekaan Indonesia. Sedangkan perkembangan mass media seperti Majalah Hindia Putera diganti menjadi Indonesia Merdeka.

8.     Pergerakan Wanita
Pergerakan wanita Indonesia untuk pertama kalinya dipelopori oleh R.A. Kartini yang kegiatannya bersifat emansipasi, artinya gerakan yang menuntut persamaan hak antara kaum wanita dan kaum pria. Ia berusaha mempelopori tuntutan hak yang sama dengan kaum pria, baik dalam pendidikan, perkawinan, dan status sosial lainnya. Surat-suratnya kepada Abendanon di Belanda dikumpulkan dalam sebuah buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” (Dusduiternis tot light).


Kepeloporan R.A. Kartini dalam membela hak-hak kaum wanita, turut mendorong lahirnya pergerakan wanita lainnya seperti, Puteri Mardika (organisasi keputrian Budi Utomo), Keutamaan Istri di Tasikmalaya dan Bandung (R.A. Dewi Sartika), Kerajinan Amal Setia (Sumatera Barat), Aisyah (wanita Muhammadiyah di Yogyakarta), PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya) di Menado oleh Maria Walanda Maramis, dan sebagainya. Pada tanggal 22 Desember 1928, diadakan Kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta yang melahirkan terbentuknya Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI). Tanggal dan bulan kelahiran PPI ini sampai sekarang selalu diperingati sebagai “Hari Ibu”.

9.     Pergerakan Pemuda dan Kongres Pemuda
Pada tanggal 7 Maret 1917, berdiri organisasi pemuda yang pertama yaitu Tri Koro Darmo (Tiga Tujuan Mulia) dengan ketuanya Satiman Wiljosandjojo dan sekretarisnya Sutomo. Dalam anggaran dasarnya, dinyatakan bahwa organisasi ini bertujuan menjalin pertalian antara murid-murid bumi petara, menambah pengetahuan umum bagi anggota-anggotanya, dan membangkitkan serta mempertajam perasaan buat segala bahasa dan kebudayaan Hindia. Pada tahun 1918, TKD diganti menjadi Jong Java. Selain di Jong Java, di luar Jawa pun bermunculan organisasi-organisasi pemuda lainnya, seperti Jong Celebes, Jong Minahasa, Jong Sumatera, dan sebagainya.
Mengingat banyaknya organisasi kepemudaan di tanah air, maka perlu diadakan suatu kemufakatan bersama mengenai pentingnya menyamakan pandangan dan pendapat untuk membentuk persatuan dan kesatuan bangsa. Usaha tersebut perlu dilakukan melalui Kongres Pemuda yang dilaksanakan pada tahun 1926 (Kongres I) dan tahun 1928 (Kongres II).
Dalam Kongres Pemuda II (27-28 Oktober 1928) di Jakarta berhasil dibuat beberapa keputusan, yaitu : mengadakan peleburan semua organisasi pemuda dan hanya membentuk satu organisasi pemuda saja; dan diikrarkannya “Sumpah Pemuda”. Adapun isi dari Sumpah Pemuda tersebut adalah : Kami putra dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Pada Kongres ini diperkenalkan pertama kalinya lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman, dan bendera Merah Putih yang dipandang sebagai bendera pusaka bangsa Indonesia. Peristiwa Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, bisa dikatakan sebagai salah satu puncak Pergerakan Nasional.


10.   Perjuangan Nasional dalam Volksraad dan Terbentuknya GAPI
Volksraad (Dewan Rakyat) dibentuk bulan Desember 1916 dan dibuka dengan resmi tanggal 18 Mei 1918 oleh Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum, dengan jumlah anggota yang berimbang antara wakil-wakil Indonesia dan Belanda. Tokoh-tokoh pergerakan yang duduk dalam Volksraad di antaranya yang terkenal adalah Mohamad Husni Thamrin (Parindra), R. Panji Soeroso, R. Soetardjo Wirjopranoto, Woerjaningrat, dan Mr. Soesanto Tirtoprojo.
Untuk memperkuat persatuan dan kesatuan di antara wakil-wakil bangsa Indonesia, tanggal 27 Januari 1930, M.H. Thamrin membentuk Fraksi Nasional yang bertujuan : mengusahakan perubahan ketatanegaraan; dan berusaha menghapuskan perbedaan-perbedaan politik, ekonomi, dan intelektual. Perjuangan bangsa Indonesia dalam Volksraad yang paling menghebohkan pemerintah Hindia-Belanda adalah petisi yang dikeluarkan oleh Mr. Soetardjo (Petisi Soetardjo) pada bulan Juli 1936. Petisi tersebut meminta diberikannya pemerintahan sendiri kepada Indonesia secara berangsur-angsur dalam jangka waktu 10 tahun. Tetapi petisi ini ditolak oleh pemerintah Hindia-Belanda dengan alasan bahwa bangsa Indonesia belum matang untuk memikul tanggung jawab memerintah diri sendiri.
Penolakan Petisi Soetardjo makin meyakinkan pergerakan nasional bahwa Volksraad bukanlah dewan perwakilan rakyat yang sejati. Untuk itu mendorong terbentuknya suatu federasi partai-partai politik Indonesia yang menjelma menjadi GAPI (Gabungan Politik Indonesia) pada bulan Mei 1939. Partai-partai politik yang tergabung dalam GAPI adalah : Parindra (Partai Indonesia Raya), Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia), PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia), PPK (Persatuan Partai Katolik), Pasundan, Persatuan Minahasa, dan PSI (Partai Islam Indonesia). Tuntutan GAPI yang terkenal adalah “Indonesia Berparlemen” yang sesungguhnya berdasarkan sendi-sendi demokrasi.
Ketika tuntutan Indonesia Berparlemen yang diajukan GAPI, Belanda diduduki oleh Jerman dan pusat pemerintahannya dipindahkan ke London ketika terjadi Perang Dunia II. Untuk menanggapi tuntutan GAPI tersebut Belanda membentuk Komisi Visman yang dipimpin oleh Dr. F.H. Visman. Komisi ini bertugas menyelidiki perubahan kenegaraan di Indonesia. Tetapi tugasnya tersebut tidak tuntas karena Jepang keburu menduduki Indonesia dan mengambil-alih kekuasaan dari tangan Belanda.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More